Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Ternyata sudah 2 tahun …

Revava … Revava … Revava ….
10 April Menjadi Saksi
Revava … Revava … Revava …
Kala Al Aqso Kan Kau Ganti
Dengan Kuil Sulaiman Dari Alam Mimpi
………

Ingat gak Dik, 10 April 2005 kala Sekte Yahudi Revava kembali secara besar – besaran mencoba untuk merobohkan Masjid Suci Al Aqso di Palestina. Di sana, saudara – saudara semuslim kita sedang berjuang untuk menghadang barisan Yahudi ekstrimis ini.

Dan hari itu adalah hari besejarah bagi kita. Ketika kita berikrar untuk menggenapkan separuh dien ini. Ketika kita berazam untuk memperbanyak Kafilah Muhammad di Indonesia dan membuat bangga Rosul di Akhirat kelak.

Dan waktu itu dengan PeDe-nya kita katakan : “Semoga Allah ijinkan keturunan kita sebagai penebus bebasnya Al Aqso dari Yahudi Terlaknat….. Allahu Akbar.” (Semoga Allah merihoi)

***

Tanpa terasa sudah 2 tahun kita menikah. Yach… waktu memang berjalan begitu cepat. Berarti benar ya dik kata simbah,: “Urip ning ndunyo iku ibarat wong mampir ngombe”. Sebentar …. Ya emang sebentar sekali. Bayangin saja kalau hidup itu diibaratkan hanya selama kita minum, sa’ clegukan ….

Ruginya kalo hidup yang sebentar ini tidak kita maksimalkan hidup kita. Maksudnya, tidak kita genapkan dien kita gitu….. Karena ternyata benar kata Rosul, bahwa menikah itu menggenapkan separoh dien, dimana banyak amalan yang ‘wajib’ kita lakukan hanya bila kita sudah menikah.

Hanya karena pernikahan, kita jadi tahu ‘serunya’ amalan – amalan rahasia pasutri, yang hanya wajib dan halal dilakukan oleh dua jenis manusia setelah menikah. Nah kalo belum menikah, ya gak sah dan berarti zina. Udah gak tenang ‘operasinya’, belum kalo MBA, mempermalukan keluarga, dah gitu diundang Neraka untuk tamasya di tamannya ….

Hanya karena pernikahan, kita ‘diharuskan’ untuk bermuamalah dengan mertua dan keluarga besarnya. Nah disini ternyata kita diuji untuk banyak – banyak salamatus sadr (ngelus dada). Bukan hanya karena budaya, adat dan kebiasaan yang berbeda, atau visi misi tentang kehidupan yang tidak sama dan bahkan planning masa depan yang saling berbenturan karenanya. Apalagi kita kan hidup dengan mereka dibawah satu atap yang sama.

Hanya karena pernikahan, saya (suami) harus mendidik, memberi nafkah dan bertanggungjawab penuh akan kehidupan anak isteri di dunia dan akhirat. Lho kok dunia akhirat? Lha iya, kalo di dunia jelas. Nah kalo anak istri masuk neraka gara – gara suami cuek gak ndidik mereka sesuai tuntunan islam yang kaffah maka suami sebanyak apapun pahalanya tetap harus menemani anak isterinya masuk neraka.

Nah ndidik isteri itu gak gampang. Wejangan belum selesai yang ada nangis dan ngambek dan endingnya salah sangka. Apa karena tulang rusuknya kebanyakan zat kapur sehingga keras susah diluruskan. Ah … mungkin harus pelan – pelan.

Hanya karena pernikahan, adik (isteri) harus menjaga rumah tangga, melayani suami, meminta ijin jika ingin keluar rumah, meminta ijin untuk membelanjakan harta suami kepada keluarganya dan lain sebagainya. Ingat dik, ridlo Allah tergantung ridlo suami. Artinya don’t let me cry again. Jadilah isteri yang sholehah yang menyejukkan hati dan indah dipandangan mata. Padahal aku ini wong jowo yang sudah digembleng untuk nrimo, sabar, ngalah dan stereotype lainnya. Nggak susah sebenarnya jadi isteriku…

Hanya karena pernikahan, kita sudah punya satu amanah jundiyah yaitu Aisyah ‘Aina Azka yang harus kita didik, kita arahkan, kita bina sesuai azam kita di hari kita menikah. Menjadi generasipembebas Al Aqso …..

Setahun ini kita harus ekstra menjaga buah hati setelah 9 bulan engkau mengandungnya dengan susah payah. Kurang tidur, cemas kala sakit, sebel kala gak mau makan dan lainnya. Cuma Allah juga adil dengan kelucuan dan kepolosannya yang menghibur kita.

Jadi, amalan rahasia, muamalah dengan mertua, muamalah dengan ipar, hak dan kewajiban suami isteri mencari nafkah, halal dan haram, mendidik anak dan masih banyak hal lainnya yang merupakan ‘separuh dien’ yang hanya dimiliki oleh insan yang telah menikah.

***

Dik, ternyata telah dua tahun engkau ‘siaga’ memberikan pelayanan yang prima. Rutinitas pagi dari menyiapkan baju, makan sampai melepas kepergian dari luar gerbang dengan ciuman sayang di tangan dan ucapan :“Hati – hati , Mas”. Segelas teh manis hangat setiap pulang, pijatan – pijatan lembut saat badan ini pegal – pegal dan berbagai pelayanan lainnya yang sungguh tak dapat kulupakan. Walaupun ku tahu betapa penat dan lelahnya dirimu setelah mengajar seharian.

Dik, marilah di milad kita yang kedua kita saling instropeksi diri akan kekurangan dan kelebihan kita masing – masing. Moga nanti hasilnya bisa untuk saling melengkapi diantara kita. Kemudian mari kita rumuskan agenda kita kedepan, kalau perlu raker yach … sekalian rihlah (kayak pengurus Parpol aja).

Sebagai penutup, maafkan mas yang masih belum menjadi suami yang ideal. Masih kadang membuatmu menitikkan air mata. Masih harus meninggalkanmu berjalan sendirian disetiap acara – acara. Masih harus sering meninggalkanmu beberapa hari untuk mukhoyam. Semoga keridloanmu menjadi istri mas, mendapat keberkahan dan rahmat dari Allah SWT. Amin.

Tangerang 10 April 2007

*) Untuk Euis Sulistyo Rinie… Met Milad Pernikahan yang ke –2. Moga Keberkahan-Nya selalu melingkupi keluarga kita sampai Allah memanggil kita ke Jannah-Nya. Amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 April 2007 by in Keluarga and tagged , .
%d blogger menyukai ini: