Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

No Bodies Perfect ….

Gunung akan terlihat indah dari kejauhan

Namun bagi siapapun para pengagumnya

Akan sangat terkejut kala mendekatinya

Maka nampaklah semak belukar yang berserakan

Dan bebatuan yang gersang menghadang

Begitulah ungkapan seorang anggota komunitas kala salah satu anggota barunya mengkritik keadaan komunitas tersebut yang tidak seindah pandangan orang luar. Sebuah ungkapan yang menggambarkan bahwa ketika kita menjadi orang luar maka dalam pandangannya komunitas tersebut sangat ideal, sempurna, dan tanpa cacat sehingga membuatnya berminat untuk menjadi anggota komunitas tersebut.

Komunitas tersebut bisa saja organisasi, jama’ah, groups, kelompok, perusahaan, kelurahan, ormas, orsospol, blok perumahan, atau bahkan sebuah keluarga. Mereka akan sangat nampak indah kala kita memandangnya dari kejauhan. Yah, rumput tetangga terlihat jauh lebih hijau dari rumput sendiri. Namun ketika kita mendekatinya, atau bahkan menjadi bagian darinya maka akan sangat banyak kita temui kekurangan – kekurangan yang memunculkan hasrat kita untuk mengkirtik dan memperbaikinya. Memang, No bodies perfect ….

Gawatnya adalah jika kritikan atau perbaikan yang dilakukan anggota tersebut tidak mendapatkan angin segar maka terjadilah apa yang disebut mufaroqoh (berlepas diri), insilah (memisahkan diri), keluar atau perceraian. Sekarang kita bisa melihat bahwa berapa banyak partai yang memiliki kepengurusan ganda, berapa banyak firqoh islam yang mengaku ahlu sunnah wal jama’ah, berapa banyak organisasi mahasiswa yang pecah, atau tingginya angka perceraian di sekitar kita. Semua itu terjadi hanya karena perbedaan pandangan yang kadang karena tidak di akomodir oleh anggota lama atau yang di’sepuh’kan atas nama ‘perbaikan’.

Sebenarnya kalau kita cermati, maka kita akan menemukan 3 langkah yang akan diambil oleh seseorang jika ia menemui kekurangan pada komunitasnya.

Pertama, Make a change. Ya, melakukan perubahan. Ia akan berusaha melawan arus, menyebarkan ide – idenya, melobi orang – orang yang disegani dan bahkan mencoba memahamkan seluruh anggota bahwa ‘pemikirannya’ yang benar. Dan komunitas harus mengikuti pemikirannya itu agar maju. Efeknya adalah ia akan dimarginalkan oleh rekan – rekannya yang tidak se-ide, terlebih jika mereka adalah yang berkuasa.

Kedua, Follow the stream. Bisa disebut ‘ikut arus’ atau dengan kata lain ambil jalan aman dan menguntungkan. Biasanya golongan ini adalah orang – orang yang berpikir pragmatis. Ia berpikir jika melakukan perubahan atau mengkritik akan berefek buruk padanya yang bisa berujung pada tidak tercapainya tujuan atau cita – citanya berada di organisasi tersebut seperti mendapatkan jabatan tertentu. Sehingga walau ia tahu bahwa komunitasnya banyak kekurangan ia diam, dan bahkan berusaha ‘menjilat’ rekanya yang berkuasa agar bisa menjadi ‘konco’nya dalam komunitas itu.

Ketiga, Quit. Keluar. Nah untuk yang satu ini akan terbagi menjadi 2 (dua) golongan yaitu : Quit but stay dan Quit and Quit.‘Quit but stay’ atau keluar tetapi tinggal adalah mereka yang meyakini bahwa ada ketidak sempurnaan pada komunitasnya namun karena merasa tidak mampu untuk mengubah dan di tidak mau menjilat, maka ia tetap tinggal tapi tidak peduli dengan keadaan sekitarnya lagi. Atau istilahnya cuek dengan apapun kondisi komunitasnya.

Untuk ‘quit and quit’ atau keluar dan keluar, adalah golongan yang setelah berusaha melakukan perubahan, memberikan kritikan tapi tidak dipedulikan bahkan dirinya dimarjinalkan, maka ia mengambil kesimpulan bahwa keberadaanya di komunitas tersebut sudah tidak berguna. Sehingga ia memutuskan untuk keluar dari komunitas untuk mencari komunitas lain yang kelihatan lebih ‘hijau’ dari komunitas yang selama ini ia ikuti.

Bagi saya, akan lebih setuju untuk point pertama ‘make a change’ dan point ketiga bagian kedua yaitu quit and quit sebagai langkah yang kita tempuh. Tentunya point ketiga adalah point ‘darurat’ yang kita perlakukan sebagai ‘exit door’ kala terjadi kebakaran di rumah kita.

Yang namanya melakukan ghoyir (perubahan) pastilah memerlukan pengorbanan, waktu dan kesabaran. Kesemuanya membutuhkan energi yang besar dari manusia – manusia yang luar biasa. Keluarbiasaan ini tentunya karena ia bergantung kepada yang Maha Luar Biasa yaitu Allah SWT. Karena tentunya kita semua faham bahwa kita tidak akan Allah uji diluar batas kemampuan kita. Dan kita tahu kalau kita tidak pernah melangkah untuk melakukan perubahan, maka kondisi tidak akan berubah. Bahkan lebih buruk lagi.

Jadi, kitakah manusia luar biasa itu. Kitakah anasir – anasir taghyir ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 April 2007 by in Islam and tagged , .
%d blogger menyukai ini: