Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Ustadz, Ijinkan Aku Insilah ….

“Maaf Ustadz, Tidak adanya diriku tidak akan berpengaruh pada dakwah ini. Maka ijinkanlah aku insilah. Ijinkanlah aku tidak aktif lagi untuk beraktivitas bersama kalian. Ijinkanlah aku tuk tak lagi menjadi da’I (penyebar)….. “

Untuk engkau tahu ustadz, aku malu disebut da’I dan bahkan beberapa orang memanggilku ustadz karena kesenioranku …. Karena aku lebih tua dari mereka …Karena aku lebih dulu menjadi aktivis dibanding mereka …

Namun tetap saja, “…ana basyaru mitslukum yuha ilayya ….”

Aku tetap manusia yang fana … yang tidak sempurna … yang memiliki berjuta kelemahan … yang kadang dikalahkan nafsu dan syahwat …. yang kadang terpukau oleh godaan dunia … yang kadang mengejar materi sampai kaki ini tersandung sandung …. Dan masih banyak lainnya, yang intinya … aku tetap manusia biasa….

Sebagai seorang yang katanya da’I, yang katanya tiap mukmin sejatinya adalah da’I, tiap jiwa yang mengaku islam adalah da’I, maka lihatlah ruhiyahku sungguh amburadul…. tilawahku tak seberapa, tergantikan canda tawaku dengan keluarga dan teman sahabat …. sholat malamku terlewat tergantikan dengan tidurku yang pulas terlena … puasa sunnahku ku reshufel dengan makan yang yang mengenyangkan hanya karena takut sakit magh … belum sholat wajibku yang kudirikan dengan kemalasan dan kulakukan diakhir waktu ….

Sebagai orang yang katanya da’I, aku malas belajar… aku malas menghapalkan ayat – ayat Al Qur’an…. Aku malas menyimak tausiyah – tausiyah para ulama. Buku – buku hanyalah penghias di rak – rak lemariku, acara kajian adalah ajang ngrumpiku ….

Sebagai seorang yang katanya da’I, berat rasanya aku beramal. Berat rasanya aku mengeluarkan 2,5% penghasilanku untuk zakatku, apalagi jika aku harus mengeluarkannya untuk infaq dan sedekah … berat … berat … apalagi untuk berjihad dengan jiwa …

Sebagai seorang yang katanya da’I, sedikit sekali aku menyisihkan waktuku untuk menyeru… karena aku takut akan menjadi orang yang dibenci Allah : “ Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan “. (Ash Shoff 2 – 3)

Sungguh aku malu ustadz, sampai – sampai ada saudaraku yang mengingatkanku dengan menuliskan dipintunya sebuah kalimat : “Katanya Ikhwan ….”

Kemudian ustadz, materi – materi yang telah engkau berikan, dan materi – materi yang telah para murobbi berikan… dengan kefahaman yang kusimpan di dalam dada, masih tak mampu untuk bergerak, untuk beramar ma’ruf, apalagi untuk nahi mungkar ….

Lidah ini masih kelu untuk mengajak orang lain mendalami islam yang katanya Indah…. Dan bahkan dulu sekali sempat kucoba untuk mengajak, kemudian mereka menyambut seruan ini…. Tapi sekarang mereka telah jauh sebagai akibat atas pilihan untuk masuk ke dalam dakwah ini… tapi apa yang kulakukan …. Tak ada …. Ampuni hambamu ini ya Allah…. yang telah mengajak mereka berjama’ah tapi kemudian kutinggalkan setelah musibah mereka terima …. Tangan ini begitu lemah untuk berbuat, lidah ini telah kaku untuk mengingatkan para junud dan qiyadah untuk menolong mereka … maka kepada-Mu lah aku berharap untuk menolong mereka …

Maka akal ini berkata untuk apa menyeru, untuk apa merekrut, jika setelah itu aku telantarkan… tanpa kuperhatikan kebutuhannya, tanpa ku obati kejenuhannya, tanpa kusinari ruhiyahnya ….

Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena tidak memperdulikan saudaraku yang lain yang tertimpa musibah. Sungguh aku takut disebut tidak beriman karena seharusnya aku mencintai mereka seperti mencintai diriki sendiri …. Sesuai materi – materi itu ….

Maafkan aku ustadz, aku menganggap rumah ini tak lagi nyaman untuk di huni… tak lagi indah untuk dipandang … tak lagi bersih untuk dibanggakan … dan tak lagi ikhlas dalam kepedulian …. Atapnya telah bocor disana – sini dan tiang serta dindingnya makin rapuh.

Kulihat ada hukum – hukum yang sudah pasti hitam putihnya, sekarang telah dibuat menjadi remang – remang dengan alasan fiqih realitas. Tapi memang siapakah diriku, aku bukan ustadz, apalagi tidak memiliki kafaah syar’I untuk menelaah hukum

Kulihat juga kita mencoba – coba untuk melegalisasi kebatilan dalam dakwah kita, goyangan wanita tlah kita undang dalam pengajian kita … bukankah “…wala talbisul haqqo bil bathil …”

Kemudian pertemuan – pertemuan ilmiyah ruhiyah kini pun telah tergantikan dengan syuro – syuro hizbiyah yang sebenarnya telah memiliki perangkat dan waktunya sendiri. Mengapa tidak manajemen waktu, mengapa tidak tawazun dalam kegiatan … bukankah kita ummat pertengahan yang tidak condong ke salah satu sisi…. Bukankah jasad, ruh dan akal memerlukan porsinya masing – masing … seperti kata murobbi dulu ….

Selanjutnya, apakah sholat ini tidak begitu membekas sehingga kita selalu terlambat datang dalam pertemuan. Bukankah sholat itu mengajarkan kita untuk disiplin dan tepat waktu. Namun mengapa hampir semua kegiatan kita selalu terlambat setengah sampai satu jam dari jadwal semula ….

Yah, memang benar kita adalah manusia biasa. Yang tidak sempurna, yang memiliki kealpaan, yang membutuhkan orang lain untuk mengingatkan. Namun bagaimana jika hati ini telah begitu mengeras membatu ….

Yaa Allah…. Ayat pertama yang kau turunkan adalah perintah untuk mentarbiyah diri “Iqro… kata-Mu”. Seolah Engkau mengatakan jika aku muslim maka aku harus Tarbiyah. Namun hati ini telah begitu berat dan ingin Insilah, maka jika aku keluar dari Tarbiyah…. Apakah tidak diartikan aku keluar dari Islam karena Islam harus Tarbiyah ….

Dan benar, jika aku keluar dari Tarbiyah yang secara nggak langsung dianggap keluar dari Islam, maka dakwah ini tak kan goyah, islam ini tetap tinggi, karena seperti kata-Mu yaa Allah : ”Hai orang – orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (Al Maidah 54)

Jadi masih mungkinkah aku untuk insilah (keluar) ya ustadz …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Mei 2007 by in Islam and tagged .
%d blogger menyukai ini: