Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

6 Langkah Menuju Keluarga Sakinah

Sahabat! Pernahkah anda ikut penataran pranikah di KUA? Bagi yang sudah menikah pasti banyak yang mengatakan pernah, tapi ada juga yang mengatakan :” saya gak datang, saya titip saja sama pak petugas”. (Titip apaan, wong yang mau nikah kita kok yang penataran petugasnya?). Nah bagi yang belum menikah paling – paling bilang belum pernah. (Walau dalam hati mengatakan entah berapa buku tentang nikah yang sekarang teronggok dilemari bukunya, atau berapa banyak kajian, seminar, dialog tentang pernikahan yang telah didatanginya…. yang isinya sama …. Tapi kan tidak di KUA .. STOPS)

Dari sekian banyak pasangan yang akan menikah, bahkan yang sudah pacaran beberapa tahun ketika ditanya apa visi pernikahan anda? Tidak sedikit yang menjawab” ya mengalir aja”, walau beberapa pasangan akan mengatakan “ingin membentuk keluarga sakinah”.

Uniknya yang mengatakan ingin membentuk keluarga sakinah, banyak yang tidak bisa merinci bagaimana sich keluarga sakinah itu, atau minimal punya langkah – langkah untuk mencapainya. Jadi apa gara – gara di undangannya ada nukilan QS Ar Ruum yang ada kata sakinah’nya, sehingga jawabanya ingin sakinah? (Pasti ada yang nyeletuk dalam hati … aku gak termasuk lho …)

Hmmm. Pantas di media massa saat ini banyak kita lihat perceraian terjadi disana – sini dan parahnya dipelopori para artis sebagai public figure. Alasannya bermacam – macam, dari sekedar tidak cocok, selingkuh, berzina, ekonomi, dijodohkan (orang tua atau murrobbi) dan lain sebagainya. Bahkan ada yang beralasan tidak ada cinta sejak pernikahan, padahal anaknya sekarang sudah belasan. (Tidak ada cinta …. Ck ck ck). Tanya kenapa ….?

Dan data dari KUA Kota Palembang mengatakan bahwa dari 100% perceraian yang terjadi itu nggak ada 10% yang disebabkan oleh poligami atau dengan kata lain suaminya kawin lagi. So… bagi aktivis anti poligami (baca: agama) yang mengatakan poligami penyebab utama perceraian bisa mencermati data ini.

Menurut penulis sich … semua perceraian itu terjadi karena tidak memiliki visi keluarga sakinah dan tidak tahu atau tidak komitmen dengan langkah untuk menggapainya. Dan ini tidak hanya dilakukan oleh orang yang pemahaman agamanya sedikit, tapi juga menghinggapi para aktivis dakwah dan harokah. Hmmm …. Sedihnya

Nah, dari hasil MABIT di Masjid Al Hakim PT Sucofindo beberapa waktu yang lalu, dari beberapa pemateri malam itu maka saya ingin sekedar berbagi kepada sesama rangkuman dari materi – materi yang ada. Sebenarnya lebih lengkap dan lebih seru kalo mendengarkannya langsung. Tapi gak papa lah, yang gak hadir tetap dapat ilmunya walau sidah difilter oleh keterbatasan memory otak saya … maaf ya.

1.Kupilih potret keluarga Rosulullah

Swear guys! Al Qur’an memang lengkap dan gak perlu ditambah – tambah lagi. Cari apa saja ada dech! Asal kita tidak lupa baca tafsirnya dan hadits – hadist yang berkaitan dengannya. (Makanya ngaji yuuu…uk)

Nah dalam Al Qur’an itu sudah digambarkan potret – potret keluarga yang akan selalu hadir sampai bumi ini Qiyamat (Silahkan buka QS Al Lahab dan QS At Tahrim sebagai rujukannya). Apa saja potretnnya :

a.Potret Suami dan Istri yang kompak ingkarnya. Suami kafir dan istri juga kafir. ( bukan karena pepatah jawa Surgo Melu neroko Katut). Diantara banyak nominasi yang ada, potret ini di menangkan oleh keluarga Abu Lahab dan Istrinya. Padahal hidup semasa dengan Nabi Muhammad, bahkan pamannya lagi. Berapa banyak mukjizat yang ia saksikan tapi tetap tidak membuatnya beriman. Bahkan lebih giat mengumpulkan kayu bakar buat di neraka.

b.Potret suami yang sholeh dan istri yang salah (ingkar). Bahkan bukan hanya istrinya saja, tetapi anak – anaknya juga kafir dan ingkar terhadap seruan fitrah islam. Potret ini akan kita temui pada sosok keluarga Nabi Nuh dan Nabi Luth. Bagaimana istri dan putranya Kan’an telah dijak masuk ke dalam kapal tapi menolak dengan alasan akan selamat di puncak gunung yang akhirnya tenggelam juga bersama kekafiran mereka. Pun istri Nabi Luth yang mengumpankan tamu – tamunya (malaikat) kepada masyarakat Homo di lingkungannya.

c.Potret istri yang sholehah dan suami yang salah (ingkar). Ingatlah akan kisah Nabi Musa as. Akan kita temui potret Fir’aun yang ingkar beristrikan Aisiyah yang dalam do’anya kepada Allah meminta dibuatkan rumah di Syurga. Dialah Aisiyah ibunda angkat Nabi Musa as, yang menarik keranjang bayi dari sungai Nil dan memohon kepada Fir’aun agar bayi laki – laki ini tidak dibunuh. Potret keluarga seperti ini banyak kita temui dewasa ini disekitar kita. Istri yang taat, beribadahnya bagus bahkan berjilbab lebar tapi bersuamikan lelaki yang muslim tapi malas sholat, bahkan kadang berjudi atau minum minuman keras (Premankah …).

d.Potret keluarga single parents. Keluarga yang hanya diisi oleh istri saja
. Potret ini diwakili oleh Maryam ibunda Nabi Isa. Hal ini diakibatkan oleh ketentuan Allah, entah karena mukjizat seperti Maryam atau karena ditinggal mati suaminya. Dan sekali lagi bukan karena si wanita ini doyan berzina dengan satu atau banyak lelaki, kemudian tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab sebagai ayah si bayi kemudian ia membesarkan anaknya sendiri seperti para artis – artis mesum itu. Namun fenomena ini sekarang menyebar ke masyarakat umum akibat wabah pergaulan bebas muda – mudi dan remaja.

e.Potret keluarga ideal, keluarga sakinah, keluarga dakwah. Potret ini ada pada diri suri tauladan kita yang terbaik yaitu Rosulullah dengan Khadijah. Sang suami sholeh, sang istri juga sholeh. Saling mengisi dalam kebahagiaan dan penderitaan kehidupan dakwah Islam.

Nah, jika ingin keluarga kita sakinah maka ambilah potret keluarga yang kelima yaitu keluarga Rosulullah sebagai contoh untuk diikuti. Tentunya harus kaffah dalam mencontohnya, sehingga ketika kemaslahatan dakwah dan ummat mengharuskan suaminya berpoligami ya jangan terus istri pertama minta cerai … (Ingat bukan karena nafsu ya mas…)

2.Kulangkahkan kaki ini dengan basmallah

Setelah diketahui model keluarga sakinah yang diinginkan, maka saatnya kita untuk melangkah. Ya kalo diem saja kapan jalannya …

Maka mulailah melangkah. Prosedurnya adalah langkah pertama kita harus dengan Bismillah… karena nikah itu kan ibadah, dan amalan ibadah hanya akan diterima jika niatan kita untuk menggapai ridlo Allah, bukan yang lain (Ingat hadits tentang niat..).

Konsekuensinya adalah kita harus memilih pasangan kita yang bagus agamanya sebagai prioritas. Ya kalo ternyata sudah sholeh trus cantik/ganteng, trus kaya, trus pejabat terhormat de el el, maka anggap itu hanya ekses saja (Dalam hati syukurnya setengah mati . . .)

Sehingga ketika pasangan kita sudah mulai keriput tidak indah lagi ya gak papa wong masih sholeh/ah. Trus andai pasangan kita sekarang jadi miskin yo gak papa yang penting masih sholeh/ah. Atau ternyata ketika pasangankita sudah jadi orang biasa ya juga ngak perlu risau wong dia masih sholeh/ah, gitu …

3.Kupinang engkau dengan hamdallah

Setelah niatan kita perbaiki, maka selanjutnya ketuk pintu si doi. Temua Camer (calon mertua), ungkapkan isi hati untuk mempersunting sang putri … deu …

Tafsiran kupinang engkau dengan hamdalah adalah kitaharus siap dengan kekurangan dan kelebihan pasangan kita masing – masing. Ya kalo pas ta’aruf belum tahu kalo tidurnya ngorok (sekalian ngiler) trus nanti kalo dah seranjang seperti tidur dengan kereta ya harus ikhlas. Atau dulu pas belum nikah sering bikin tulisan atawa acara romantis (yang ternyata EO nya temenya sendiri) trus habis akad ternyata kaku dan jutek maka juga harus ikhlas. Intinya apapun kekurangan pasangan kita kita harus sabar.

Ingat, kisah seorang istri yang cantik dan masih mduabersuamikan lelaki yang jelek, ketus, kasar dan tua. Si istri selalu berkata dalam hatinya bahwa pernikahannya dengan lelaki itu adalah tiketnya masuk syurga. Hal ini atas kesabaran yang di lakukan. Bayangin aja gimana gak sabar, punya suami jelek, kasar, ketus… tua lagi. Nah begitupun sang suami. Pernikahannya itu dia jadikan pula sebagai tiket masuk syurga. Hal ini karena kesyukuran yang selalu dia panjatkan. Bagaimana gak syukur, punya istri muda, cantik, sholeh, nrimo lagi. Nah ternyata KESABARAN dan KESYUKURAN dalam kisah tadilah implikasi dari hamdallah itu …

Kemudian konsekuensi dari hamdalah itu juga adalah kita tidak boleh mengharapkan balasan atas apa yang kita kerjakan. Jangan sekali kali sang suami mengatakan saya sudah capek banting tulang, peras keringat cari nafkah untuk istrinya trus pulang kerja kok gak dibikinin kopi. Atau sang istri pun mengatakan sudah capek nyuci, masak dan ngurusin anak kayak pembantu masak minta baju baru buat lebaran saja gak dikasih sich. So, janganlah apa yang telah kita lakukan kita ungkit – ungkit pas kita meminta sesuatu. Cobalah memusyawarahkan segala keperluan rumah tangga dengan baik tanpa mengungkit – ungkit pemberian. Bisa kan !!

4.Kusahkan ikatan ini dengan Akad Nikah

Ingat, sahnya akad nikah jika semua rukun nikahnya terpenuhi. Apa saja? Mempelai pria, mempelai wanita, wali, mahar, saksi dan ijab qobul. Ah… anda memang pintar!

Tentunya kalo salah satu rukun itu gak ada pasti gak sah. Nah, yang sering terjadi adalah permasalahan pada wali. Karena kedua mempelai sudah kadung cinta katanya, tetapi ayah si wanita gak setuju maka jadilah istilah kawin lari (pake wali hakim). Hati – hati, jika ayahnya muslim, waras, dan masih hidup jangan coba – coba untuk memakai wali hakim saat beliau gak setuju dengan pernikahan kita. Implikasinya adalah nikah kita tidak sah yang artinya kita berzina seumur hidup, iiih ngeriii…

Kemudian jangan kesampingkan pencatatan di KUA. Nikah sirri memang sah secara agama tapi banyak kejadian keluarga akan kesulitan untuk mengurus hal administratif di kelurahan atau sekolah. Nah yang paling banyak dirugikan adalah pihak mempelai wanita dan anak – anak tentunya. Jangan sampai pas mendaftar sekolah, trus dimintai akte kelahiran kita jadi kelabakan. Karena untuk membuat akte kelahiran harus menyertakan fotokopi surat nikah. Tanpa surat nikah maka pada akte akan tertulis anak lahir di luar nikah, tanpa nama ayah disana (Siapa yang mau kalo anak kita dibilang masyarakat sebagai anak haram hayo… walau sebenarnya semua anak itu terlahir suci)

5.Kulalui hari – hari pernikahan dengan laa haula wala quwwata ila billah

Sahabat. Bukalah mushofmu dan bacalah 2 ayat terakhir surat Al Baqoroh. Bahwasanya kita tidak akan dibebani dengan sesuatu yang kita tidak mampu. Jadi sepahit apapun derita yang saat ini kita lalui, maka Allah telah tetapkan bahwa kita pasti mampu untuk melaluinya. Maka ketika musibah datang kepada kita, maka kesabaranlah yang akan menjadi perisai kita untuk melaluinya. Jika ingin berkeluh kesah, maka bukan kepada teman, sahabat, orang tua, tetangga atau manusia manapun. Tapi kepada Allahlah engkau utarakan semuanya, curhatlah engkau pada-Nya. Tahajudlah sahabat …

Kemudian jika kebahagian, kemakmuran atau kegembiraan yang datang kepada kita. Maka ingatlah bahwa tanpa ijin dari Allah kita tidak akan dapat mendapatkannya. Sehingga tidak akan terlintas sedikitpun dalam dada kita ketakaburan, kesombongan dan ujub atas kesuksesan yang kita raih. Karena pada dasarnya kita hanya berusaha, dan Allah yang mengijabah do’a kita. Kita tak ada apa – apanya tanpa kehendak-Nya.

Sehingga disinilah nada kepasrahan kita dengungkan. Tiang tawakal kita tancapkan. Keikhlasan atas segala keputusan-Nya adalah pondasi atas apapun yang akan menimpa biduk rumah tangga kita kelak. Maka selalu ingatlah, tiada daya upaya tanpa ridlo dari Yang Maha Kuasa . . .

6.Kubimbing keluargaku dengan laa ilaa ha illallah

Terakhir sahabat. Ada tugas yang harus dipikul tiap keluarga. Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, maka dia akan diminta pertangungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin bagi rumah tangganya, maka tiap jiwa akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Maka ajarkanlah keluargamu mengenal Allah. Bimbinglah mereka kepada fitrah manusia yaitu fitrah Islam.

Jika anak – anakmu lahir kelak. Hal pertama yang harus kau ajarkan adalah mengenal Allah. Yaa.. Ma’rifatullah. Bahwasanya tiada tuhan melainkan Allah. Dialah Dzat yang pantas untuk di sembah. Kepada-Nyalah bergantung segala sesuatu. Sehingga anak – anak kita kelak tidak akan takut dengan manusia – penguasa yang dzolim misalnya. Tidak akan terseret pada arus duniawi, kebebasan yang tanpa batas yang merusak dan fitnah – fitnah dunia lainnya.

Selanjutnya, jadikanlah keluargamu itu majelis ilmu. Utamakan ilmu agama terlebih dahulu baru ilmu dunia. Agar kita tidak menjadi orang pinter yang keblinger. Agar kita cerdas membedakan mana yang haq dan mana yang bathil.

InsyaAllah keluarga ini sakinah dankelak akan masuk Jannah

Nah, jika keenam langkah itu kita lakukan. Maka dengan keijinan-Nya keluarga kita akan sakinah. Dan jika keluarga kita sakinah maka insyaAllah syurga adalah pelabuhan terakhir.

Bagi yang belum menikah, semoga langkah – langkah ini bermanfaat sebagai mainframe (panduan) rumah tanggamu kelak. Bagi yang sudah menikah, tidak perlu engkau mengulanginya dari awal (Masak suruh ta’aruf lagi, trus akad lagi). Cukup engkau instropeksi diri beberapa langkah yang telah lalu. Jika telah benar maka kuatkanlah. Jika belum maka perbaikilah.

Akhirnya, semoga rangkuman dari MABIT beberapa hari yang lalu bermanfaat bagi diri saya dan keluarga saya. Dan bermanfaat bagi para saudaraku sekalian. Wallahu ‘alam bish showwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Juni 2007 by in Islam, Keluarga and tagged .
%d blogger menyukai ini: