Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Jalut, Thalut, dan Daud

Oleh ASEP SALAHUDIN

JALUT adalah seorang raja zalim dengan kekuasaan yang besar. Salah satu kelompok masyarakat yang menjadi objek perasannya adalah Bani Israel. Kebalikan Jalut ialah Thalut. Thalut adalah raja dengan kekuasaan dan pasukannya yang kecil, namun memiliki karakteristik yang berbanding terbalik dengan Jalut. Kekuasaan yang ada di tangannya dikelola dengan cara-cara santun dan senantiasa berkhidmat kepada Allah dan kemanusiaan.

Ketika Jalut semakin agresif dan perangainya kian tak terkendali, segala persoalan diselesaikan lewat pendekatan represif (kekerasan). Di titik inilah Thalut mengibarkan perlawanan. Mengobarkan semangat juang pasukannya untuk menghadapi dan menghentikan kezaliman Jalut (Q.S. Al-Baqarah/2:246-249).

Seperti dicatat Alquran, alur cerita selanjutnya, berkat iman yang kokoh, komitmen, dedikasi yang tinggi, praktik hidup yang lurus, disiplin serta diiringi munajat yang tidak pernah terlewat dalam praktiknya kelompok kecil ini dapat menjungkalkan Jalut.

Salah saeorang pahlawan yang sangat berjasa dalam mengalahkan Jalut bahkan Jalut sendiri terbunuh di tangannya dalam pertempuran pembuka duel satu lawan satu adalah Daud. Daud pun yang semula sangat tidak diperhitungkan (seorang petani dari pelosok) sontak menjadi buah bibir bahkan popularitasnya nyaris mengalahkan Thalut itu sendiri. Tumbangnya Jalut di satu sisi, telah mengangkat Daud menjadi ikon dari tertambatkannya harapan akan terbitnya sebuah kehidupan yang lebih beradab. Perubahan itu sekarang berada di pundak Daud apalagi setelah Thalut meninggal (anak perempuannya dikawinkan dengan Daud) nyaris kekuasaan pun tergenggam sepenuhnya di tangan Daud.

Karena Daud berperang bukan atas nama popularitas apalagi meraih jabatan yang bersifat sementara, tapi semata demi tegaknya nilai-nilai kebenaran dan terwujudnya kehidupan bermartabat, maka pascakemenangan itu, di tengah masyarakat yang terus mengelu-elukannya, menyebut-nyebutnya dengan decak penuh kagum, Daud justru lari bersembunyi ke tengah hutan. Menyepi. Ia mengasingkan diri dari hiruk pikuk manusia yang tidak pernah henti menceritakan kehebatan sepak terjangnya dalam menumbangkan kedigjayaan Jalut.

Ia larut bersama alam dalam keheningan, meraih damai di tengah pepohonan rindang, hutan belukar, dan beragam binatang yang sama-sama ikut bertasbih menyucikan Sang Pencipta. Dalam kesendirian dengan jiwa yang luruh ia kembalikan semua yang dimiliki dan yang ada dalam dirinya semata kepada Allah. Ia bersimbah dalam tobat yang sungguh-sungguh, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia Kami (Kami berfirman), ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud…'” (Q.S. Abasa/80:10).

Daud yang rendah hati inilah, sekali lagi, yang di kemudian hari sepeninggalnya raja Thalut melanjutkan estafeta kekuasaanya. Daud yang memiliki keterampilan (mukjizat) untuk merakit produksi-produksi “teknologi tinggi”, melunakkan besi, membuat pakaian antipeluru dan sebagainya (Q.S. Saba’/34: 10-11, al-Anbiya’/21: 79-80).

Negara yang dikelola oleh Daud betul-betul sejahtera. Hikmah dan kebijaksanaan dijadikan sebagai alat untuk menyelesaikan segala persoalan. Setiap kebijakan yang menyangkut hajat orang banyak selalu diacukan kepada rasa kemanusiaan yang mendalam. Kekuasaan di tangannya dengan sempurna menjadi sarana untuk bersama-sama seluruh makhluk mengagungkan Allah Zat Penguasa yang paling hakiki (Q.S. Shad/38:17-20).

Di tangan Daud a.s. (dan Sulaiman a.s.) tidak ada konflik kecuali konflik itu dituntaskan dengan meresapkan rasa keadilan yang merata kepada semuanya, “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat), dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu” (Q.S. Al-Anbiya/21: 78-79). Q.S. Shad/38 ayat 21-25 lebih jauh mencerminkan ihwal bagaimana Daud a.s. selalu memutuskan perkara dengan objektif dan apabila keputusannya itu kurang tepat maka dengan segera dia tersungkur memohon ampun dan kembali kepada-Nya

Alhasil, Jalut adalah simpul dari penguasa zalim di mana yang selalu mengendap dalam alam pikirannya tidak lebih adalah bagaimana kekuasannya itu dapat memuaskan hasrat-hasrat kebendaannya. Kekuasaan dijadikan sebagai tujuan itu sendiri. Maka bagi moralitas banal model Jalut tidak lagi dikenal etika. Malah yang jelas mereka selalu dibakar sebuah obsesi degil bagaimana agar kuasa itu bersifat kekal dan semakin besar tidak peduli di tingkat lapangan harus menelan korban dan menyengsarakan banyak orang.

Sebelum semua obsesi busuknya itu tergapai, sebelum korban-korban pembangunan semakin bertambah, ambisinya keburu dihentikan oleh sepasukan kecil yang merupakan representasi dari manusia-manusia yang masih memiliki kejernihan pikir, kebeningan akal budi, maju ke medan laga untuk menumbangkan penindasan semata atas nama panggilan jiwa yang luhur demi tegaknya nilai-nilai kebenaran.

Sudah menjadi sunatullah, orde sekuat apa pun apabila diatur dengan cara-cara menghinakan akal sehat pada akhirnya akan berujung dengan sangat nista. Dipermalukan oleh sepasukan kecil yang bergerak guna mengembalikan keadaan dan kemanusiaan ke habitat asalnya yang fitri. Dalam peralihan kekuasaan selalu ada sosok-sosok panutan yang dengan keberanian sempurna berada di garis terdepan. Daud adalah sosok terdepan dari pasukan pemberani itu, bahkan di tangannya sendiri Jalut menemui ajalnya.

Daud sebagai pahlawan yang rendah hati, tidak gila popularitas bahkan ketika takdir mengantarnya ke puncak kekuasaan, maka kekuasaan yang ada di tangannya benar-benar menjadi pipa yang menyalurkan berkah bagi orang banyak. Mudah-mudahan di tengah situasi kebangsaan yang begitu banyak orang berminat untuk menjadi penguasa, salah satunya diseleksi lewat pilkada langsung, dapat melahirkan Daud-Daud kecil yang dapat menyerap keinginan masyarakat dan mengejewantahkannya dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang memihak mereka. Wallah
u a’lam.
***

Penulis, mengajar di Fakultas Syariah IAILM Suryalaya.

Dari : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0505/06/renungan_jumat.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Juli 2007 by in Islam and tagged , , .
%d blogger menyukai ini: