Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Islam dan Jama’ahnya

Fatamorgana (Gunung) Jama’ah
Gunung. Siapa yang tidak suka gunung bagi para pemuda pecinta alam. Gunung yang dengan bebatuan terjal yang terasa pedih yang melingkupinya, hutan hijau yang melindunginya, bukit – bukit yang merupakan ujian bagi para pendaki untuk menuju puncaknya dan mata air bening yang menggoda untuk meminumnya. Sebagian menganggap gunung adalah keindahan, sebagian menganggap gunung adalah tantangan, sebagian menganggap gunung adalah kesegaran dan sebagain lagi menganggap gunung adalah penghilang dahaga kehausan.

Sehingga gunung bagaikan magnet yang memiliki daya tarik untuk mendakinya, menikmati keindahannya, merengkuh pelukan kesegarannya, dan menghilangkan dahaga kehausan yang selama ini mendera.

Namun ketika berjalannya waktu, entah akibat keserakahan manusia atau memang semakin banyaknya manusia yang membutuhkan manfaat (‘memanfaatkan’) dari gunung dan seisinya, atau juga karena memang sudah masanya terjadi, maka gunung itu sedikit demi sedikit melukiskan kerusakan – kerusakan yang dialaminya.

Keindahan yang dulu nampak hasil perpaduan yang serasi antara bebatuan, bukit, hutan dan mata air, kini terlihat mulai gersang dimata. Seolah hanya bebatuan terjal saja yang tampak, pohon – pohon yang memberikan kesegaran telah bertumbangan disana – sini, mata airnyapun sebagian telah mulai mengering, sedangkan sebagiannya lagi telah sedikit airnya. Maka hanya ada dua pilihan bagi para pendaki itu, memperbaiki gunung dengan reboisasi ataukah mencari gunung yang lain yang sesuai dengan harapannya.

Bayangkan andaikata jama’ah yang indah ini, kemudian menjadi gersang. Tidak menyenangkan bagi penghuninya, apalagi bagi orang yang hanya suka memandangnya. Bayangkan jika yang nampak hanyalah kejelekkanya yang terjal melukai setiap kaki, anggotanya yang dulu menyegarkan dengan ruhiyah yang prima kini bertumbangan dan pokok dahannya mulai mengering serta mata air keilmuan yang dulu menggoda siapapun untuk merasakannya, kini sebagiannya telah kering dan sebagiannya telah sedikit airnya. Haruskah beralih ke ‘gunung’ yang lain?

Kaum pengganti
Anak – anak TPA paling suka mendengarkan cerita. Salah satunya kisah Nabi – nabi. Entah bagian mana yang mereka sukai, tapi yang jelas anak – anak suka cerita. Satu hal yang sama yang bisa diambil dari kisah para Nabi adalah mereka diutus kepada suatu kaum untuk hanya menyembah Allah saja. Namun ketika sebagian besar mereka ingkar maka Allah binasakan dan hanya menyisakan sebagian yang sholeh.

Ingatlah, bagaimana kaum Nuh yang hanya tersisa se-kapal, bagaimana kaum Luth yang hanya tersisa beberapa orang yang mau mengungsi dari desa, begitu pula kebanyakan nabi – nabi yang lain. Namun apa daya, manusia tetaplah manusia. Beberapa kurun waktu setelah nabinya wafat, kemudian orang tua – orang tua mereka wafat, maka mereka kembali durhaka kepada Allah. Seolah mereka memang menunggu – nunggu golongan pengganti dari kaumnya, dimana mereka yang durhaka kepada Allah akan kembali dibinasakan. Begitulah kisah nabi dari nabi yang satu ke nabi yang lain.

Begitu juga jama’ah ini, jika suatu saat para anggotanya mulai meninggalkan sunnah dan berlari menuju harta, tahta, dan wanita. Apakah susah bagi Allah untuk menggantinya dengan golongan lain yang mereka mencintai Allah dan Allah mencintai mereka? Jadi bukan hanya jika salah satu anggotanya futur dan kemudian insilah, entah menuju dunia atau beralih ke jama’ah yang lain maka Allah akan gantikan dengan sosok yang bahkan lebih baik. Namun jika seluruh anggota jama’ah ini, baik sadar ataupun tidak telah terbawa menuju dunia atau menyamai jama’ah lain yang orientasinya bukan tauhid, maka Allah akan gantikan dengan jama’ah lain yang Allah ridlo dengannya dan mereka ridlo dengan Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 Januari 2008 by in Islam and tagged , .
%d blogger menyukai ini: