Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Ketaatan dan Ketsiqohan

Teringat dahulu ketika OSPEK dikampus. Ada 2 pasal yang harus kami hapalkan dan kami laksanakan, yaitu :

Pasal 1. Senior tidak pernah salah.

Pasal 2. Jika senior salah lihat pasal 1.

Ada perlawanan dalam hati sebenarnya, namun atas nama taat dan telah ‘dipilih’ diantara orang – orang yang ‘ tidak beruntung’ karena belum dipilih untuk masuk system maka kami telan saja mentah – mentah dogma itu. Pun, begitu juga tahun – tahun berikutnya sampai kami lulus. Karena jika kami tak setuju dengan dogma ini, maka pilihan satu – satunya adalah keluar dari system yang secara tidak langsung berhadapan dengan ‘menggadaikan masa depan’. Dan ternyata, ketika memasuki dunia kerjapun, dogma yang sama ternyata tetap berlaku. Bahwa atasan tidak pernah salah.

Beruntungnya, dari salah satu pojokan kampus yang sama juga kami mendapat pelajaran yang cukup berharga. Bukan hanya memahamkan kami bahwa dogma itu sebenarnya salah, juga memberitahu kami bahwa dogma ini lahir dari prinsip materialisme, yang bukan hanya harus ditentang, namun juga harus dilawan. Karena ia tidak hanya menyengsarakan yang lemah, tidak hanya menipu orang lain untuk keuntungan diri, namun ia pula melawan setiap sendi fitrah ke-Tuhan-an.

Dari sanalah kami diberitahu bagaimana Muhammad dalam beberapa event peperangan ditanya oleh para sahabat apakah stratetegi itu dari Allah atau memang hasil pemikirannya. Dan dia menjawab bahwa itu hasil pemikirannya, dimana kemudian idenya itu ternyata diganti oleh ide para sahabat. Bukankah Muhammad seorang Nabi? Bagaimana kedudukan ide atau ijtihad kita? Selalu benarkah atau kadang mungkin juga salah. Karena seperti Nabi, kita juga manusia, yang butuh ide dan ijtihad pembanding untuk menilai ide dan ijtihad kita.

Kemudian dalam perjalanan hidupnya, bagaimana Muhammad yang Nabi dan Rosul itu melakukan beberapa kesalahan manusiawi dan ijtihadi yang ternyata langsung mendapat teguran dari Allah. Itulah mengapa ia disebut maksum, bukan tidak pernah melakukan kesalahan tapi selalu dalam penjagaan. Lantas bagaimana kita yang bukan Nabi apalagi Rosul? Mungkinkah Jibril datang – atas perintah-Nya – untuk memberi teguran atas kesalahan yang kita lakukan?

Dari pojokan kampus itu pulalah kami diberitahu bahwa ketaatan itu hanya kepada Allah, Rosul dan Ulil Amri. Dan tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam bermaksiat kepada Kholik. Dan jika kita tidak mampu melawan dengan kekuatan atau dengan lisan atas kemaksiatan yang dimintakan kepada kita, paling kami gunakan selemah – lemah iman dan kesabaran sambil mohon keampunan atas kelemahan diri.

Pojokan kampus itu juga mengajarkan. Bahwa dalam urutan arkanul ba’iah, ketaatan dan ketsiqohan berada jauh dibelakang setelah kefahaman, keikhlasan dan amal. Lantas bagaimana kami bisa ta’at jika kami tak faham, lantas bagaimana kami bisa tsiqoh jika kami tidak ikhlas dan bisakah kami taat jika kami tidak mau beramal? Maka, berapa banyak kefahaman, keikhlasan dan amal yang telah dan selalu diajarkan kepada kami dalam setiap ide dan ijtihad yang harus kami jalankan?

Sehingga, manakah yang harus kami ambil untuk kami praktekkan dalam hubungan qiyadah dan jundiyah dalam hal ketaatan dan ketsiqohan? Ajaran OSPEK itukah? Atau ajaran pojokan kampus?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 Januari 2008 by in Islam and tagged , .
%d blogger menyukai ini: