Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

(Update) Jika Umur ‘tinggal’ 4 Bulan

“Akhi Fillah, kanker akhuna Muslihin sdh mnyebar & divonis max 4 bl. Trapi yg djalani Rp. 11 jt & trus btmbah, skrg di RS Mitra Kelapa Gading, gimana aksi kita?”

Sebuah SMS Pukul 10:41 pada Rabu pagi ini

Tertegun. Diam. Berjuta rasa.

Bukan karena angka 11 juta yang harus dikeluarkan dan pasti akan terus bertambah. Sebuah angka yang cukup fantastis untuk seorang Muslikhin yang hanya buruh pabrik di Tangerang. Bukan … bukan itu. Itu hanyalah kayu bakar bagi keputusasaan yang niscaya tidak akan menyala jika disirami infaq, sedekah dan bantuan dari siapa saja untuk biaya pengobatannya.

Lebih kepada vonis dokter bahwa hidupnya hanya tinggal 4 bulan dikarenakan penyakit hepatoma (kanker hati) yang dideritanya. Jika dihitung, maka akhir April adalah akhir dari sebuah kehidupan seorang Muslikhin yang baru berumur 28 tahun. Ah… masih begitu muda kayaknya. Anaknya saja baru 4 tahun.

Walau mungkin ada yang berkata :”Itukan Vonis Dokter, sering terjadi seorang pasien yang divonis hidupnya tinggal 4 bulan ternyata selama beberapa tahun kemudian masih hidup dan kadang malah sembuh total. Dokter kan bukan Tuhan!”

Engkau benar sahabat. Dokter bukan Tuhan yang memerintahkan malaikat pencabut nyawa untuk menjemput siapa saja yang dikehendaki. Dokterpun tahu, ia hanyalah manusia biasa, yang perkiraanya bisa salah bisa benar. Toh itu hanya perkiraan …. Tuhan-lah yang menentukan …

Vonis itu haruslah ditafsirkan bahwa penanganan pengobatan sang pasien haruslah tepat, cepat dan akurat. Seolah 4 bulan adalah tengat waktu yang harus dikejar. Sebuah masa yang diartikan sebagai bentuk ikhtiar yang maksimal dan manusiawi. Itupun jika sumber daya yang dimiliki pasien mencukupi. Jika tidak, ah ….

Namun bayangkanlah …. jika itu kita.

Sahabat,jika vonis itu ternyata adalah untuk kita. Sejauh mana kita mampu menyingkirkan keputusasaan dari benak kita, bahkan mungkin dari iman kita. Sejauh mana kita bisa seperti Muslikhin yang Sabtu kemarin saat kami jenguk mengatakan :” Saya hanya berharap terhadap 2 hal, kesembuhan atau khusnul khotimah”. Itu jauh sebelum dokter mengeluarkan hasil analisanya, seolah ia telah merasakan seberapa berat kadar penyakitnya.

Sahabat,jika vonis itu ternyata adalah untuk kita. Maka selama 4 bulan ini apa yang akan kita lakukan. Berusaha maksimal untuk sembuh berapapun biayanya, ataukah pasrah karena keadaan diri dan keluarga yang memang tidak memiliki biaya yang sedemikian besar. Bahkan mungkin dibumbui, simpanlah biaya itu untuk anak saja, daripada buat berobat, percuma. Kepasrahan yang mungkin adalah puncak dari keputusasaan ketika penyakit sudah sedemikian parah sedangkan dana tidak mencukupi. Keputusasaan yang juga merupakan buah dari keimanan kepada Tuhan yang mulai lemah. Yang manakah sahabat ….

Sahabat,jika vonis itu ternyata adalah untuk kita. Maka setelah ikhtiar yang maksimal, apalagi yang kita lakukan. Akankah kita semakin mendekatkan diri kepata Tuhan dengan banyak berdzikir, tilawah Al Qur’an, dan ibadah lainnya. Selanjutnya bersabar dengan berharap sakit ini sebagai penebus dosa – dosa yang pernah dilakukan. Ataukah malah kita mengumpat Tuhan, seolah menyalahkan kita yang masih muda ini kenapa harus diberi penyakit sedemikian gawat. Kenapa diberi penyakit yang biayanya diluar kemampuan. Dan mungkin segudang kenapa yang lainnya….

Sahabat,jika vonis itu ternyata adalah untuk kita. Apakah do’a dari para sahabat, teman, atau siapapun bisa memberikan tambahan semangat untuk berjuang melawan penyakit. Bukan hanya penyakit fisiknya, melainkan juga bisikan syetan kedalam hatinya untuk segera menyerah dan putus asa? Apakah kehadiran mereka bisa menjadi bumbu untuk mengerakkan bibir tersenyum, walau derita sedang kita rasakan?

Ya Allah semoga Engkau memberi yang terbaik untuk Muslikhin. Jika kesembuhan adalah yang terbaik menurut-Mu, maka sembuhkanlah. Jika memang ini adalah cara-Mu memanggilnya, maka panggilah ia sebagai hamba-Mu yang khusnul khotimah. Karena kami sadar, bahwa apa yang menurut kami baik, belum tentu baik menurut-Mu, dan yang menurut kami jelek belum tentu jelek menurut-Mu.

Ya Allah, tabahkanlah hatinya, hindarkan dari keputusasaan, mudah dan ringankan kan uluran tangan kami untuk berdo’a dan memberikan bantuan. Amin

(Untuk yang ingin memberikan motivasi atau bantuan dapat menghubungi istrinya Liga 021-99615347. Donasi juga dapat disalurkan melalui rek BCA atas nama Nanang Tri Junianto No.2241424768 dan rek BSM atas nama Nanang Tri Junianto No. 0097055421. Saat ini Muslikhin masih di RS Thamrin di Salemba lantai 5 kamar 517, sedangkan kemarin ke RS Mitra kelapa Gading hanya untuk therapi. Mohon ketika berbicara dengan Muslikhin untuk tidak menyebut waktu tinggal 4 bulan, takut shock, karena sampai saat ini tidak diberitahukan oleh istrinya.)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Januari 2008 by in Uncategorized and tagged .
%d blogger menyukai ini: