Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

SAYA INI SEDANG FUTUR

Saya ini sedang futur,

Terbukti dengan mulai ogah-ogahannya saya datang ke pengajian setiap pekan.

Dengan alasan klasik: kuliah, lelah, sibuklah, inilah, itulah, saya sedang kalah.

Saya ini sedang futur,

Baca Qur’an jarang, nonton 21 doyan.

Baca Qur’an tak berkesan, nonton VCD ketagihan.

Saya ini sedang futur,

Tak lagi pandai menjaga pandangan.

Senang curi-curi kesempatan.

Saya ini sedang futur,

Jarang baca buku tentang Islam.

Lagi demen main sampai malam.

Saya ini sedang futur,

Walau takut azab, tak pernah sekalipun terisak.

Malah seringnya terbahak-bahak.

Saya ini sedang futur,

Malas berdo’a.

Inginnya pasrah tanpa usaha.

Saya ini sedang futur,

Lihat perut saya yang semakin buncit selangit.

Kalau infaq sedikit, sudah mulai pelit.

Saya ini sedang futur,

Sibuk ngurusin pekerjaan.

Ogah menangani binaan.

Saya ini sedang futur,

Tak lagi bersyukur.

Sudah mulai tidak jujur.

Saya ini sedang futur,

Senang disanjung.

Dikritik langsung murung.

Saya ini sedang futur,

Sangat susah bangun malam untuk muhasabah dan bertafakkur.

Lebih senang peluk guling lalu mendengkur.

Saya ini sedang futur,

Malas ngurusin keluarga,rajin menggunjing tetangga.

Sedikit sekali muhasabah,sering kali menggibah.

Saya ini sedang futur,

Lebih sering bicara cinta.

Walaupun tak jelas kemana tujuannya.

Ya, memang saya ini sedang futur,

Kenapa saya futur?

Kenapa tidak ada seorangpun yang menegur atau menghibur?

Kenapa kepura-puraan, basa-basi, kekakuan makin subur?

Kenapa diantara kita sudah mulai tidak jujur?

Kenapa diantara kita sudah ada yang ngawur?

Kenapa ukhuwah diantara kita sudah mulai hancur?

Kenapa diantara kita ada yang hanya pandai bertutur?

Ya Allah, berikan saya pelipur dan solusi yang terbaik agar tidak semakin futur dan tersungkur …

Futur : menurut Syekh Al Salumy, futur adalah salah satu dari aib sendiri. Dimana melemahnya semangat melaksanakan ketaatan baik berupa hak Allah maupun manusia, setelah sebelumnya ia melaksanakannya dengan semangat. Lebih buruk lagi kalau ia malah tidak mengetahui kefuturannya. Dan jauh lebih buruk lagi kalau dalam keadaan futur ia malah merasa sedang semangat dalam ketaatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 April 2008 by in Islam and tagged .
%d blogger menyukai ini: