Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

BANGGA MENJADI PANDU

Kepanduan DPD Kota Tangerang

Bismillahirrohmanirrohim.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kenikmatan ber-Islam dan berjama’ah bagi kita semua, yang telah memberikan kesempatan kepada kita melalui beberapa qiyadah kita untuk berkontribusi dalam penyelenggaraan negara, dan yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk dalam hubungan antara qiyadah wa jundiyah, antara pemimpin dan yang dipimpinnya.

Ikhwah fillah, betapa nasehat Allah SWT begitu jelas bahwa siapapun dia baik sang qiyadah maupun sang jundiyah tidak akan selamanya benar. Betapa indah teguran Allah SWT kepada Qiyadah waktu itu yaitu Muhammad SAW ketika mengambil tebusan atas tawanan perang Badar, padahal Umar ra sang sahabat Nabi mengusulkan hal yang selainnya. Dengan teguran itu Allah SWT menunjukkan bahwa yang benar adalah pendapat Umar ra. Rosulullah pun dengan tanpa malu dan takut hilang kehormatannya mengakui kesalahannya dihadapan Umar dan para sahabat. Bahkan itu menambah kemuliaanya. Begitu pula ketika terjadi perang Uhud, Allah SWT membenarkan pendapat Nabi -Nya diatas pendapat para sahabat.

Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Rosulullah SAW, sang pengamal Al Qur’an sejati. Yang bukan hanya menyampaikan tanpa pengamalan. Yang telah memberikan tauladan atas hubungan pemimpin dan ummatnya. Yang seharusnyalah contoh itu menjadi referensi kita pada hari ini. Kemaksuman Rosulullah SAW bukan berarti ia tidak pernah salah. Namun Allah akan selalu menjaga Nabinya untuk sadar dengan kesalahannya dan kembali kepada jalan yang seharusnya. Dan atas kesalahan Beliau itulah kita mendapatkan pelajaran yang sangat mulia sebagai bekalan atas setiap permasalahan yang kita hadapi pada hari ini. Seolah – olah kesalahan itu memang disengaja untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang terjamin dari tidak berbuat salah.

Ikhwah fillah, Ingatlah bagaimana Rosulullah SAW tidak pernah merasa selalu benar sendiri. Ia sebagai qiyadah seringkali membenarkan dan mengikuti pendapat para sahabatnya. Pada perang Badar Rosul menyetujui usul untuk berkemah dekat sebuah mata air dan menutup mata air lainnya. Pada perang Khondaq Ia menyetujui usul Salman Al Farisi untuk membuat parit mengelilingi Madinah. Dan diantara usul – usul para sahabat itu, Rosul-pun tidak segan untuk menunjukkan kebijaksanaan dan kecerdasannya. Ingatlah pejanjian Hudaibiyah yang fonumental itu, dimana banyak para sahabat mempertanyakan yang ternyata setelah itu terbukti ketepatan strategi sang Rosul mulia.

Sholawat serta salam juga semoga tersampaikan kepada para sahabat Nabi yang diantaranya adalah para khulafaur rasyidin. Sang Peniru sejati, karena ia meniru apa – apa yang Rosulullah SAW sampaikan dan amalkan. Sungguh sangat luar biasa sikap seorang pemimpin yang tegas untuk siap diingatkan oleh masyarakatnya. Bagaimana Umar ra yang begitu bahagia ketika seorang sahabat mencabut pedang sebagai ungkapan siap meluruskan sang khalifah juka ia salah. Pun juga dengan sikap sahabat yang begitu taat dengan qiyadahnya.

Suatu ketika seorang sahabat meminta Umar untuk berhenti bicara ketika ia sedang berkhutbah untuk mengklarifikasi sebuah masalah dan ia tidak akan taat sebelum masalah itu selesai. Sang sahabat menanyakan mengapa Umar mendapat jatah 2 potong pakaian sedangkan semua masyarakat hanya mendapat satu potong saja. Ia-pun mengatakan tidak akan taat kepata Umar sebelum masalah ini diselesaikan. Marahkah Umar? Ternyata ia begitu sabar, tetap tersenyum, dan tidak mengeluarkan kata – kata seolah yang bertanya adalah jundi yang bermasalah, jundi yang tidak taat kepada pemimpin, jundi yang perlu diberi uqubah atas kelancangannya. Umar pun dengan santai memanggil Abdullah untuk menjelaskan. Dan ternyata 2 potong pakaian khalifah itu, salah satunya adalah jatah Abdullah yang diberikan kepada Umar. Sang sahabat-pun segera menyambut klarifikasi itu dengan berkata saya taat kembali dan mempersilahkan Umar melanjutkan pembicaraannya.

Ikhwah fillah, itulah sebaik – baik hubungan qiyadah wa jundiyah, hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, hubungan antara komandan dan prajurit. Dan didalam hubungan itu terdapat fungsi kepanduan dalam jama’ah kita. Fungsi kepanduan yang memiliki beberapa misi yaitu : sebagai fungsi pembinaan, fungsi pengamanan dan fungsi pelayanan.

FUNGSI PEMBINAAN

Ikhfah fillah, berapa prosentase tingkat kehadiran liqoat kalian? 100% kah? Kemudian berapa banyak dari kita yang datang tepat waktu saat liqoat maupun syuro dan acara kepartaian, ataukah mayoritas dari kita bangga untuk datang terlambat. Lantas dimana kedisiplinan kita? Dan apakah uqubah selalu menjadi keseharian atas ketidakdisiplinan perilaku kita?

Itulah mengapa perlunya kepanduan, untuk mendisiplinkan. Dimana salah satu puncak kegiatan pendisiplinan ini adalah mukhoyyam setiap tahunnya, yang oleh Iman Syahid dimasukkan sebagai salah satu perangkat Tarbiyah.

Karena mukhoyyam adalah perangkat tarbiyah, maka seharusnyalah ia menjadi tanggung jawab Kaderisasi dimana pada ujungnya terdapat sosok murrobi. Sedangkan kepanduan hanyalah fasilitator – panitia pelaksana – untuk menyukseskan perangkat ini. Seharusnyalah Kaderisasi cemas ketika mukhoyam tidak jelas kabarnya. Seharusnyalah Kaderisasi yang memobilisasi kader untuk aktif dalam mukhoyyam. Dan seharusnya pula ada sistem uqubah yang jelas untuk mereka yang tidak melaksanakan mukhoyyam setiap tahunnya.

Uqubah itu adalah salah satu sarana pendisiplinan. Uqubah pula adalah salah satu sarana jelasnya kesetaraan kedudukan. Karena jika uqubah tidak dilaksanakan, maka cepat atau lambat mukhoyyam sebagai perangkat mukhoyyam akan hilang. Ini berkaitan dengan masalah hati. Akan ada kecemburuan sosial dari sekelompok anggota jama’ah yang aktif mukhoyyam dengan menyisihkan cutinya disaat managernya menuntutnya untuk lembur, mengeluarkan biaya yang begitu besar disaat anak perlu tambahan susu, dan rasa capek dan penat yang sangat disaat bulan kemarin baru saja opname di rumah sakit.

Pemberian uqubahpun harus sesuai tingkatan kesalahan, iqob kader yang terlambat apel siaga tentunya lebih kecil dari mereka yang tidak hadir, dan iqob yang tidak hadir apel siaga tentunya lebih kecil dari iqob mereka yang tidak ikut acara intinya.

Sungguh bukan karena kebencian maka uqubah itu ada. Justru disanalah bukti cinta dari saudara. Saudara dalam suka dan duka. Saudara dalam dakwah kepada-Nya. Karena saudara itu adalah mereka yang menjaga agar kita tidak berbuat salah, agar kita tidak terperosok ke dalam lubang kejahiliahan, agar kita tidak keluar dari kumpulan par
a penyeru kebaikan.

FUNGSI PENGAMANAN

Ingat! Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat si pelaku, namun juga karena adanya kesempatan. Nah salah satu tugas fungsi kepanduan adalah meminimalisir kesempatan si pelaku untuk melaksanakan niatnya. Sehingga tercipta rasa aman dalam hati kita yang ujungnya adalah kita dapat melaksanakan segala aktifitas kita dengan maksimal untuk kesuksesan dakwah.

Adalah wajar jika kita temui kepanduan menjadi ‘tukang parkir’ yang mengatur dan menjaga kendaraan kita, ‘pak ogah’ yang membantu kelancaran lalu lintas, ‘satpam/security’ yang berjaga di depan pintu atau malah mondar mandir di tengah massa, ‘bodyguard’ yang menjaga beberapa orang penting dalam jama’ah ini dan ‘tim lost found’ yang mengamankan orangtua yang hilang yang dicari anaknya. Serta sebagai puncaknya, kepanduan adalah prajurit jama’ah untuk terwujudnya izul Islam wal muslimin dengan tugas amar ma’ruf nahyi munkar dan berjihad di jalan-Nya.

Sebagian tugas tersebut mungkin kelihatan remeh bagi kita, atau bahkan ada yang menganggapnya sebagai tugas ‘rendah’ yang tidak pantas dilakukan karena mungkin kita adalah pekerja kantoran, levelnya supervisor atau manager atau duduk sebagai pengurus harian dalam DPD atau DPC, atau kita adalah ustadz dalam jama’ah ini.

Sesungguhnya tugas tersebut adalah sarana menundukkan kesombongan kita, mengembalikan kefitrahan kita bahwa kita semua adalah sama dihadapan-Nya, dan mengetes keikhlasan dan ketsiqohan kita sebagai anak panah yang siap dilepaskan dari busurnya untuk mengenai sasaran yang telah ditentukan.

Namun bukan berarti jika sudah ada tukang parkir, pak ogah, security, bodyguard dan tim lost found maka kita bisa berbuat seenaknya. Bukankah mereka hanya meminimalisir? Maka adalah tugas kita pula untuk mengamankan diri kita sendiri, untuk tidak mengundang orang lain berbuat jahat kepada kita dan untuk selalu waspada disetiap waktu dan kesempatan.

FUNGSI PELAYANAN

Munas telah mengamanatkan kita agar kita menjadi jama’ah yang memimpin dan melayani ummat. Dengan kata lain kita adalah pemimpin disatu sisi dan pelayan disisi lain dimanapun kita berada, dimanapun posisi kita dalam susunan batu bata yang kokoh ini. Kepanduan – sebagai salah satu batu bata- juga memiliki tugas memimpin dan melayani. Melayani kader dan masyarakat kala mereka membutuhkan, saat bencana misalnya.

Namun tugas pelayanan ini jangan sampai disalah artikan seolah – olah kepanduan adalah ‘Superman’ yang siap melanyani siapa saja yang menjadikan fungsi – fungsi lain dalam jama’ah ini menjadi mandul atau mati. Adalah pemahaman yang salah jika kepanduan ‘mengambil’ porsi fungsi lain misalnya tugas fungsi konsumsi, fungsi perlengkapan atau fungsi acara dalam sebuah kepanitiaan. Sehingga yang terjadi adalah kepanduan sibuk antar jemput konsumsi dan membagikannya kepada hadirin. Kepanduan sibuk mengatur meja, memasang bendera, memasang spanduk, mengangkat baliho dan sebagainya. Karena hal ini akan mengakibatkan peran fungsi tersebut mandul atau tidak maksimal. Seharusnyalah mereka bisa memobilisasi kader yang sudah sedemikian banyak untuk duduk dalam kepanitiaan sebagai staff fungsi tertentu.

Andaikata kepanitiaan memang didesain ‘mini’ karena berbagai pertimbangan, maka strategi ‘total football’ harus dilakukan. Dimana fungsi – fungsi lain membantu sebuah fungsi menyelesaikan tugasnya. Hal ini akan terlihat kala ketua panitia, sekretaris, fungsi acara, fungsi konsumsi, atau fungsi dokumentasi bersemangat menyelesaikan tugas fungsi perlengkapan dengan membantunya memasang sepanduk dipertigaan jalan atau istilahnya kapten bisa menjadi striker atau gelandang jika dibutuhkan.

Nah jika fungsi – fungsi itu sudah bekerja dengan maksimal yang mungkin dan masih membutuhkan bantuan, maka tidak salah jika mereka melibatkan kepanduan. Sehingga tidak berarti jika konsumsi tidak merata, spanduk belum terpasang maka itu adalah salah kepanduan, karena sebenarnya itu adalah tugas dari fungsi yang lain.

Dan apabila suatu saat Kepanduan tidak bersedia ‘bekerja sama’ untuk masuk terlalu dalam pada tugas fungsi yang lain agar fungsi itu bekerja maksimal, adalah tidak dewasa jika kemudian Kepanduan dianggap tidak ‘IKHLAS’ melakukan pelayanannya selama ini. Karena pangkal masalahnya adalah ketidakprofesionalitasan suatu fungsi yang perlu dikritik dan didukung untuk terus memperbaiki diri. Bukankan kedepan kita harus BERSIH, PEDULI dan PROFESIONAL?

KITA ( SEMUA ) KEPANDUAN

Sejarah peradaban Islam telah membuktikan bagaimana Islam bisa berjaya, dan bagaimana Islam mengalami kemundurannya. Islam bisa berjaya karena qiyadah/pemimpin bisa melayani rakyatnya, karena mereka tidak merasa berbeda dengan ummatnya, karena keadilan yang diterima oleh siapapun apapun kedudukannya. Sedangkan kemunduran Islam terjadi karena pemimpin minta dilayani oleh ummatnya, karena apa yang dirasakan oleh ummat sangat berbeda dengan yang dirasakan oleh pemimpinnya sehingga timbulah kecemburuan yang berujung kepada ketidaktaatan.

Adalah suri tauladan yang baik ketika Muhammad sang Rosul Allah adalah Muhammad yang turut mengeluarkan keringat membangun masjid Nabawi, Muhammad sang qiyadah adalah juga Muhammad yang menggali parit pada perang khondaq dan Muhammad sang komandan pasukan muslimin adalah juga Muhammad yang terluka tusukan pedang pada perang Uhud. Karena Ia tidak merasa kedudukannya sebagai Rosul, sebagai Qiyadah, dan sebagai Komandan menjadikannya merasa memiliki keistimewaan dan berbeda dari ummatnya. Begitupun para sahabat, sehingga betapa nyantai, nyaman dan amannya Umar sang Khalifah untuk tidur diatas tikar tanpa pengawalan yang mungkin pada era saat ini akan dibilang tidak pantas dialami oleh seorang yang berkedudukan sebagai kepala negara.

Maka dengan suri tauladan itu adalah sangat tidak ‘nyunnah’ jika kita sebagai kader dakwah yang mencoba mengikuti manhaj Rosulullah bertindak sebaliknya. Yaitu tindakan berupa penolakan ikut mukhoyyam, menolak memberikan uqubah kepada mereka yang malas mukhoyam, merasa gengsi untuk menjadi tukang parkir, pak ogah dan tugas kepanduan lainnya dengan alasan kita lebih ‘senior’, alasan kita itu ustadz, kita itu pengurus DPD, DSD, atau DPC, atau karena kita adalah anggota dewan yang terhormat.

Bahkan mungkin perlu adanya ‘magang’ bagi kita dalam tugas – tugas kepanduan diantara kesibukan kita walau sesekali dan tidak harus fulltime. Sesekali mungkin perlu anggota dewan jaga parkir, atau seorang ustadz menjadi ‘bodyguard’ tokoh dari pusat pada acara – acara tertentu.Karena, Inna al akh sodiq la budda ayyakuna ‘kepanduan’, karena kita semua adalah kepanduan. Wallahu ‘alam bish showwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Mei 2008 by in Politik and tagged .
%d blogger menyukai ini: