Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Fitnah Dakwah

Dakwah telah dibuktikan pada berbagai masa pasti akan mengalami fitnah (ujian) dalam berbagai tahapannya. Jika kita melihat siroh Rosulullah, maka dakwah akan mengalami 2 fase besar yaitu fase mekah (sebelum berkuasa) dan fase madinah (berkuasa).

Fase sebelum berkuasa

Pada fase ini, dakwah masihlah ‘baru’ diperkenalkan kepada masyarakat, sehingga tabiatnya adalah penyebaran pemikiran, rekrutmen anggota baru, penyempurnaan manhaj, perumusan strategi, dan sudah mulai melakukan amal – amal nyata di masyarakat. Semua energi yang dimiliki akan dimaksimalkan untuk berdakwah kepada masyarakat, sehingga hampir – hampir saja urusan pribadi dan keluarga tidak mendapat perhatian yang cukup.

Pada fase ini akan terjadi perang pemikiran yang dahsyat antara pemikiran – pemikiran yang sudah ada dengan dakwah. Perang ini berlanjut dari hanya sekedar black campaign dan dialog peradaban, sampai bentrokan fisik antar pendukung, dan muaranya adalah pelarangan beraktifitas, penangkapan aktifis dakwah dan bahkan pembunuhan oleh penguasa setempat.

Dengan kondisi friksi yang terjadi, maka ikatan ukhuwah antar elemen dakwah sangat kuat, semangat itsar sangat membahana, keyakinan terhadap fikroh sungguh luar biasa dan muaranya adalah ketaatan dan ketsiqohan terhadap qiyadah yang membaja.

Potret nyata fase ini adalah hampir semua elemen dakwah berasal dari masyarakat ‘biasa’ karena seruan yang dilakukan baru bisa menyentuh kalangan ‘marginal’, yang secara poleksosbud berada dalam posisi yang terdzolimi. Keberadaan mereka terilhami dengan semangat untuk merubah keadaan diri, masyarakat dan negara yang semrawut dengan bahan bakar dakwah Ilallah.

Fase berkuasa

Pada fase ini, dakwah telah merambah bukan hanya kaum ‘marginal’, namun telah mulai diterima oleh para elite penguasa. Dan pada muaranya nanti, dakwah akan melembaga dalam sebuah bentuk negara yang mengatur sendi kehidupan masyarakat. Proses di fase sebelumnya masihlah terus dilakukan dan bahkan mendapat peluang untuk lebih massif bergerak.

Ancaman lokal terhadap jama’ah dakwah bukan tidak ada, namun kecil atau berapapun besarnya masih bisa diminimalisir efeknya. Sehingga mulailah tercipta kenyamanan beraktifitas. Namun, justru ancaman yang paling berbahaya adalah datang dari dalam jama’ah itu sendiri. Fitnah harta, tahta dan wanita adalah ancaman serius untuk keberlangsungan dakwah.

Beberapa elite dakwah mulai menampakkan jurang kesenjangan sosial dalam harta diantaranya membeli rumah mewah kala anggotanya masihlah menyewa rumah petak, membeli mobil mewah kala anggotanya masih naik sepeda, makan di food court sebuah mall kala dipinggir jalan anggotanya sibuk menjajakan pisang goreng untuk bertahan hidup.

Disisi lain, perasaan telah menjadi ‘orang besar’ baik untuk mereka yang menduduki jabatan publik, atau qiyadah disebuah level telah mengeluarkan ‘aroma kesombongan’. Dan bahkan tidak sedikit yang mulai tergiur untuk berambisi menduduki jabatan tertentu, dan mulailah proses menggunting dalam lipatan atau makan tulang teman. Dakwah mulai menjadi ajang pencapaian ambisi – ambisi pribadi, yang menjadi sangat rentan timbulnya perpecahan.

Ketika harta atau tahta telah dimiliki, kemudian sering ‘main – main’ dihotel yang ‘dingin’ dimana banyak sekali tawaran – tawaran ‘jajanan cinta’ yang datang maka mulailah kader dakwah masuk ke tahap ‘memerlukan tambahan kehangatan’. Mereka yang otaknya masih lurus pastilah memilih jalan ta’adud, namun bagi yang tidak kuat iman atau istri tidak mengijinkan maka diambilah opsi ‘kencan cinta’. Toh, hanya ‘tuhan’ yang tahu katanya?

Potret nyata fase ini adalah mulainya kader dakwah mengambil peran dalam eksekutif, yudikatif maupun legislatif. Dan bahkan beberapa diantara mereka sebenarnya orang – orang ‘baru’ yang memanfaatkan peluang sudah besarnya dakwah. Sehingga amatlah sulit untuk memilah antara : kita bekerja untuk dakwah ataukah dakwah bekerja untuk kita.

Pertanyaannya adalah, bagaimana cara agar dakwah tetap survive di dua fase besar diatas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Juni 2008 by in Islam and tagged .
%d blogger menyukai ini: