Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Abu Wanas : Muawiyah vs Ali

Abu Wanas : Muawiyah vs Ali

Suatu hari Abu Wanas dipanggil oleh Khalifah untuk menghadap. Segera ia datang ke istana untuk menemui sang khalifah. Jantungnya berdebar memikirkan kemungkinan pertanyaan yang harus ia jawab. Karena ia tahu, jika sang khalifah memanggilnya tentulah ada persoalan yang harus diselesaikannya. Kadang karena khalifah ingin mengujinya, dan kadang karena memang khalifah tidak tahu jawabannya.

Sampailah ia di gerbang istana. Dua pengawal gerbang mempersilahkan ia langsung masuk tanpa prosedur yang berbelit karena mereka sudah biasa melihat Abu Mawas lalu lalang di istana. Mereka sudah mahfum kalo Abu Wanas pasti dipanggil khalifah.

Masuk ke pendopo, dilihatnya khalifah sedang duduk dengan sebuah buku ditangannya.

Abu Wanas : Assalamu’alikum ya Khalifah.

Khalifah : Wa’alaikum salam. Hei Abu ke sini kau.

Abu Wanas : Ada apa gerangan khalifah memanggil saya.

Khalifah : Kau lihat kitab ini, ini kitab shiroh Nabawiyah. Aku membacanya dan sampailah pada bagian perseteruan antara Muawiyah dan Ali. Aku tahu mereka adalah para sahabat yang sama – sama di didik oleh Rosulullah. Saya tidak meragukan keislaman mereka. Namun yang membuatku bingung mengapa sampai terjadi perseteruan itu yang mengakibatkan ratusan sahabat yang hafal Al Qur’an wafat, Ibunda Aisyah angkat senjata dan menjadi tawanan serta mulailah ummat islam terpecah menjadi khawarij, syiah, dan sunni. Apa kamu tahu jawabannya?

Abu Wanas terdiam. Dalam hatinya ia merasa berat sekali harus menilai diantara dua sahabat. Apalagi efek dari peristiwa itu sangatlah dahsyat. Lama ia berpikir, lalu katanya : Tuanku. Melihat bahwa mereka adalah para sahabat yang mendapat bimbingan Rosulullah secara langsung, sebenarnya susah untuk mencari alasan perseteruan itu. Tapi mereka kan masih manusia biasa.

Khalifah : Maksudmu?

Abu Wanas : Begini Tuanku. Saya bukannya benci kepada Muawiyah andaikan beberapa analisa saya menjelekkan beliau. Tapi Rosul saja pernah salah walau selalu diingatkan oleh Allah, makanya ia disebut maksum, bukan tidak pernah salah tapi pernah salah yang langsung diingatkan untuk pelajaran ummatnya, apalagi mereka yang selain beliau.

Khalifah : Teruskan. Jawabanmu sangat berarti bagiku untuk menjagaku agar selalu menjadi pemimpin yang adil dan ikhlas.

Abu Wanas : Baik Tuanku. Saya akan membahas alasan dari sisi negatif terlebih dahulu.

Pertama, bisa jadi perlawanan Muawiyah adalah karena ia atau orang terdekatnya sakit hati karena tidak menjadi Khalifah. Padahal mereka sudah sangat berharap agar calonnya itu yang menjabat setelah Utsman wafat.

Kedua, Adanya faktor kesombongan. Mu’awiyah atau orang disekitarnya merasa besar, merasa memiliki pendukung yang lumayan, setia dan siap berkorban apa saja tanpa perlu bertanya kenapa. Sehingga diawali faktor sakit hati trus merasa punya modal maka ia pun maju menantang Ali sebagai khalifah.

Ketiga, Adanya orang yang suka mengambil kesempatan. Mereka bisa para bisnismen yang akan memiliki peluang bisnis jika ada peperangan. Ingat Aus dan Khojroj yang berperang puluhan tahun karena Yahudi mendapat untung dari menjual senjata. Bisa pula orang yang mengambil keuntungan secara politis. Ia akan mendapat kedudukan tertentu atas kemenangan atau kekalahan baik Mu’awiyah maupun Ali, nggak penting siapa yang menang. Buktinya banyak penghafal Qur’an meninggal padahal merekalah para penjaga syari’at. Sehingga dengan kematian mereka ummat akan semakin ngawur karena nggak ada tempat bertanya dan orang yang mengingatkan.

Keempat, Terlalu powerfullnya posisi Mu’awiyah dimata pendukungnya. Sehingga hampir tidak ada yang bisa menyanggah pendapatnya. Maka apapun yang diinginkan atau diminta oleh Mu’awiyah pasti terlaksana. Hal ini karena mungkin orang – orang yang memiliki kemampuan disekitarnya bungkam, atau malah sengaja dibungkam.

Kelima, Adanya ambisi pribadi. Nah ambisi ini bisa saja ambisinya Mu’awiyah atau beberapa orang di sekitarnya. Bisa saja Mu’awiyah sebenarnya tidak berambisi menjadi khalifah. Nah, beberapa orang disekitarnya yang berambisi dengan memanfaatkan Mu’awiyah sebagai ikon perjuangan. Setelah Mu’awiyah nanti menjadi khalifah maka mereka kan bisa minta kedudukan menjadi Gubernur di Syam atau Baghdad. Jadi bisa saja sebenarnya merekalah yang berambisi, bukannya Mu’awiyah. Namun tidak tertutup kemungkinan juga Mu’awiyah yang merasa Asli Quraisy, keturunan ketua kabilah, merasa ialah yang lebih berhak menjadi khalifah dibandingkan Ali.

Khalifah : Lantas, analisa dari sisi positif apa?

Abu Wanas : Nah, selain kemungkinan alasan negatif. Bisa saja terdapat alasan positif dibalik perlawanan Mu’awiyah.

Pertama, Mu’awiyah ingin berlomba – lomba dalam kebaikan. Anda tahu kan kalo ia menjadi khalifah maka ada banyak lading amal yang bisa ia lakukan. Nah ia ingin mendapat kesempatan untuk dapat berbuat kebajikan bagi ummat. Begitupun para pendukungnya. Cuma masalahnya, ketika sudah ada orang baik yang dibai’at untuk menjadi pemimpin oleh mayoritas rakyatnya. Apa dibenarkan oleh syari’at atau pantas secara etika moral untuk melawannya.

Kedua, Mu’awiyah ingin menunjukkan bahwa orang yang baik itu bukan cuma Ali. Masih ada Mu’awiyah, sehingga ummat tidak mengkhultuskan Ali. Anda kan tahu, mengkhultuskan orang itu kan bagian dari Syirik, dan syirik akan membawa pelakunya ke neraka.

Khalifah : Nah, menurut kamu mana lebih dominan? Alasan positif atau negatif.

Abu Wanas : Sebenarnya bukan masalah alasan negatif atau positifnya. Andaikan waktu itu ada acara sosialisasi untuk memberitahukan apa sih niat Mu’awiyah maju melawan Ali, maka tidak akan ada para sahabat yang wafat, Ibunda Aisyah termalukan, muncul golongan Syiah, muncul kalangan Khawarij yang mudah mengkafirkan. Namun kita kan tidak boleh berandai – andai. Untuk pertanyaan anda, tuanku kan khalifah. Pasti bisa menerka mana yang dominan. Agaknya keberadaan saya cukup disini Tuanku. Toh, anda sudah tahu jawabannya. Wassalamu’alikum. (sambil pergi meninggalkan khalifah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15 Agustus 2008 by in Islam and tagged , , .
%d blogger menyukai ini: