Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

PETERNAK, JANGAN KAU TUSUK TELURMU

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana telur – telur itu menetaskan anak – anak ayam yang lucu. Cobalah sesekali anda pergi ke tempat penetasan telur disekitar anda dan temuilah Sang Peternak. Belajarlah darinya. Tanyakan bagaimana cara mudah menemukan sebuah telur yang telah kau tusuk dengan peniti yang kemudian kau campurkan dengan telur – telur yang lain.

Ah! Sebagai seseorang yang bukan peternak maka kita akan mengatakan :”Susah!” Bagaimana mungkin kita mencari telur yang telah tertusuk itu diantara telur – telur lain yang bentuk, ukuran dan warnanya sama. Kalaupun bisa, pasti memerlukan alat yang canggih atau waktu yang sangat lama.

Namun kita akan terkejut dengan cara Sang Peternak. Ia akan meminta kita datang seminggu lagi untuk menemukan telur tersebut dengan mudah. Mengapa begitu Mudah?

Ya! Tentu akan sangat mudah menemukan telur yang busuk diantara telur – telur lain yang normal. Bau tak sedap itu bukan hanya memenuhi ruang penetasan, namun juga menjalar ke lingkungan disekitarnya. Bahkan bisa jadi dapat membuat beberapa telur – telur yang lain untuk ikut busuk pada fase akhir penetasan. Bayangkan kerugian sang peternak jika telur – telurnya tidak menetas dan tercium aroma tak sedap di peternakannya. Apakah omset pembelian tidak menurun?

Sebenarnya, tusukan kita pada telur tersebut bukan hanya membuat lubang atau melukai cangkang, namun juga merusak seluruh isinya. Dan tentunya telah gagallah telur itu untuk menghasilkan anak ayam, yang mungkin di masa depan ia akan menjadi ayam jantan yang handal, ayam petarung yang ulung atau ayam betina yang subur. Itulah ayam paripurna yang berasal dari telur yang luar biasa.

Mungkin ada yang berguman : “ Itu mah biasa saja!”

Saya sedang tidak berbicara tentang kisah ‘ biasa’ penetasan telur atau kerugian sang peternak karena telur – telurnya tidak menetas. Saya ingin mengajak anda untuk mengambil pelajaran kisah tadi untuk diaplikasikan pada kehidupan kita, MANUSIA bukan AYAM.

Terdapat dua hal yang dapat dikategorikan sebagai ‘Tusukan Sang Peternak’ kepada manusia – manusia yang sedang ‘ditetaskannya’.

Pertama, pemberian stempel atau stigma negatif. Stempel itu bisa berupa tuduhan seperti bodoh, malas, NATO (No Action Talk Only), provokator, tidak disiplin, tidak taat, pengamat, dan lain sebagainya. Sebuah stempel yang akan selalu terbayang kala kita bertemu dengannya dan otak kita akan berkata :”Ada pembuat masalah dihadapanmu. Lawan!” Hasilnya adalah, apapun yang dikatakannya atau dilakukannya maka akan bernilai salah. Sebuah penjurian yang tidak adil karena yang dinilai bukan ‘APA’ tetapi “SIAPA”.

Kedua, pemberian stempel over positif. Stempel ini berupa julukan luar biasa, tak ada cela, orang hebat, tak pernah salah, sangat pintar dan lain sebagainya. Maka yang ada adalah kekaguman, keterpesonaan dan berefek pada kebertundukan. Sehingga apapun yang dikatakan atau dilakukannya akan kita terima tanpa ‘reserve’ dan tanpa ‘perlu’ pengecekan kembali, karena hal itu berasal dari orang yang luar biasa. Orang yang tidak mungkin salah. Bahkan kita mengira bahwa sesuatu yang disampaikannya adalah ‘ketentuan dewa’ yang manusia seperti kita nggak sampai ilmunya. Itulah ‘GHULUW’ yang berujung kepada ‘TAKLID BUTA’.

Kedua hal tersebut sama bahayanya. Bahaya bagi dia secara pribadi karena dia tak akan menjadi manusia paripurna, dia akan layu sebelum berkembang, dia akan mati sebelum mekar, dia akan jatuh sebelum berbunga. Padahal bisa saja ia kan menjadi seorang yang sangat berguna bagi ummat dan bangsa.

Selain itu ia akan berbahaya bagi komunitas penetasan karena ‘busuknya telur tusukan’ akan membuka aib ke dunia luar, membuka rahasia, dan memunculkan curiga. Akibatnya banyak orang yang tidak mau mendekat, tidak mau ‘membeli’ bahkan mungkin memusuhi ‘peternakan’ itu hanya karena ‘baunya’.

“OK! Itu pelajarannya. Tapi maaf, saya bukan peternak katamu.”

Ketahuilah! Setiap kita hakikatnya adalah ‘peternak’. Seorang suami adalah ‘peternak’ bagi istri dan anak – anaknya. Seorang guru atau murobi adalah ‘peternak’ bagi anak didik atau mutarobinya. Seorang Manajeradalah ‘peternak’ bagi para staff atau bawahannya. Seorang pemimpin atau qiyadah adalah ‘peternak’ bagi ummat atau masyarakat yang dipimpinnya. Seorang ulama adalah ‘peternak’ bagi komunitas atau jama’ah yang dibinanya. Tapi maaf, saya tidak sedang menyamakana ‘MEREKA dengan ‘AYAM’.

Maka marilah kita menjadi ‘peternak’ yang handal. Peternak yang tak pernah mengenal kata lelah. Peternak yang selalu sabar menghadapi hambatan dalam ‘menetaskan’ telurnya. Para peternak yang berupaya menghasilkan pejantan yang tangguh, petarung yang ulung atau indukan yang subur. Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 4 Juni 2009 by in Islam and tagged , .
%d blogger menyukai ini: