Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Prahara Jamaah

Sejenak aku termenung, mata ini memicing. Mencoba mencari jawab atas tanya yang tak terucap. Tentang teka teki yang muncul setiap hari. Kenapa harus si Boediono? Kenapa bukan si Budi Anduk saja sekalian?

Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku golput? Atau, aku harus pilih yang lain? Mungkin Benar apa kata ustadz, kalo cuma mengikuti kata hati langsung saja. Talak empat!
‘Aku tetap tsiqoh ikut hasil syuro’, azzam dalam hati terpatri. Yang aku tahu yadullah ma’al jama’ah. Tapi itu mungkin hanya untuk diriku, tidak untuk ‘mengajak’ karena begitu berat untuk memegangnya.
Sejatinya sudah beberapa kawan bertanya, sms dan juga email tentangnya. Jawaban yang datar dan netral demi memendam rasa kekecewaan hati. Tak peduli akan gempita caci maki yang terus menghias media tertuju pada satu fokus. Partai dakwah telah ‘habis’.
Akhi, Saya merindukan Partai Keadilan (PK). Article yang di eramuslim bagus banget, saya juga merasakan itu. Ternyata apa yang dikhawatirkan ‘Sang Murrabi’ terjadi. Sang Monyet jatuh kena terpaan angin yang sepoi sepoi.
Sadar dan Bangun Bung…

Email di atas membangunkanku dari mimpi ini. Menyadarkan dari lamunan panjang. Aku merenung dan menimbang. Benarkah tergolong taqlid buta?
Satu persatu sosok perkasa itu terbayang hadir. Kisah heroik yang terekam dalam sejarah keislaman.
Lelaki gagah ini terkenal dengan perangainya yang keras. Rasulullah mendo’a-kan khusus baginya guna mengangkat izzah islam. Ketidaksabarannya menjadi tonggak sejarah dakwah periode sirriyah ke jahriyah.
‘Bukankah Engkau ini, Rasulullah?’, yang ditanya hanya mengangguk. ‘Kenapa Engkau hinakan Islam dengan empat butir perjanjian yang merugikan kita seperti ini?’, gejolak jiwanya memberontak tak berjawab. Berpaling ia pada sosok lembut di sebelah Rasulullah, kembali pertanyaan bernada gugatan memecah kesunyian mencekam. ‘Diamlah, Umar..!’, Abubakar meredam gejolak di Hudaibiyah itu. Sirah paling popular yang kita pakai sebagai hujjah atas keputusan Qiyadah.
Lain Umar lain pula dengan pemimpin pasukan berkuda ini. Keperkasaannya pernah dirasakan kaum muslimin di bukit Uhud. Atas Al Fath Al Mubiin di Hudaibiyah, bayang kehinaan yang akan menimpanya membuat dunia serasa sempit. Bingung, kemana ia akan mengungsi?
Rasulullah menanyakan dirimu akhi, ‘Kemana Khalid, saudaramu itu? Seandainya ia masuk Islam, tentu kami utamakan ia dari yang lain. Kemampuannya pasti akan bermanfaat bagi kemuliaan islam dan dirinya’, begitu kiranya isi surat di tangan yang ia genggam. Surat yang ia dapat dari saudaranya yang lebih dulu hijrah ke Madinah. Utusan agung itu mengatakan kemuliaan, bukan kehinaan. Goresan pena itu telah abadi dalam sejarah.
Kurang dari tiga bulan dalam bimbingan tarbiyah islamiyah, Khalid bin Walid mulai menerima beban dakwah. Tugasnya memimpin pasukan muslimin yang lebih senior darinya melawan sanak dan kerabatnya sendiri. Orang orang yang dulu dipimpinnya untuk memporakporandakan pasukan mukmin harus ia temui sebagai musuh tanpa ragu sedikitpun.
Dan benar saja, penyebaran islam melesat bersama pasukannya sepeninggal Rasulullah. Sampai tiba suatu hari, dimana praduga Umar yang salah ia tepis. “Saya tidak berjuang untuk Umar, tapi untuk Allah. Kini saya bebas menjemput syahid,” sambutnya kala surat pencopotannya sebagai panglima dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab dia terima di medan perang.
Lain cerita lain pula Ibrah yang bisa kita ambil.
‘Aku’, jawab manusia perkasa itu membanggakan kehebatan ilmu di hadapan para muridnya kala ditanya siapa di muka bumi yang paling berilmu. Cikal bakal dan asal mula perjalanan hidup yang panjang menimba ilmu ‘bathin’ yang harus dilaluinya. Kisah abadi dalam surat Al Kahfi antara Nabi Musa yang wajib berguru pada seorang lelaki hikmah yang ditafsir bernama Khidhir. Tentang pembunuhan anak kecil, pengrusakan perahu dan perbaikan rumah. Tiga peristiwa yang tak mampu ia cerna, gagal mengantarkan sosok kuat nan cerdas itu menguasai ilmu bashirah hingga memaksakan keduanya sepakat mesti berpisah.
Sedang Syaikh Munir Al Ghadban dalam Manhaj Haraki menyimpulkan kegagalan dari beberapa harakah dakwah adalah begitu mudahnya mereka (jundiyah) mencurigai para Qiyadahnya sehingga tidak tsiqah bahkan berbalik menjadi penentang. Meskipun betul bahwa faham dituntut lebih dahulu, tetapi sirriyah wa amniyah juga mesti bersinergi.
Ada cerita tokoh terkenal, ada juga kisah budak yang (mungkin) terlewat.
Kematiannya disambut takbir kaum mukminin. Mereka menyangka mati syahid menyambut hamba sahaya ini. ‘Si fulan di neraka’, begitu sabda Rasul memandang mayat Mid’am. Semua mata tertuju pada jasad sahaya pengumpul dan penjaga ghanimah yang terbunuh itu. Berbilang tahun ikut berkiprah dalam madrasah Rasulullah menempatkannya ke neraka. Oleh sebab sehelai kain yang dipakainya adalah bagian dari ghanimah, bukan haknya.
Beda Mid’am beda juga dengan Al Aswat, budak yang ‘hanya’ bermodal Aqidah. ‘Si f
ulan
syahid‘, sabdanya sesaat setelah penaklukan benteng Khaibar. Kali ini dahi para penghadir mengerut. Budak penggembala milik Yahudi bernama Al Aswat itu belum lagi beramal shalih. Hanya berbekal syahadat yang baru saja ia ikrarkan, lalu menghalau hewan-hewan ternak agar pulang kepada tuannya. Terbunuhnya disongsong syahid.
Kini golongan yang manakah diri ini? Sudah sehebat Umar-kah? Sudah segagah Kholid-kah? Sudah sepandai Musa-kah? (Mengaku) Bertaun berkiprah? Kader terbina? Sedang, tiap pekan sebagai ‘juara’ pengisi pundi ‘iqob’ karena mutaba’ah harian tak tercapai. Sudah pantaskah diri menyalahkan para Qiyadah hingga hilang rasa tsiqah? Bahkan membangkang?
Ilmu Taat dari Umar, ilmu Ikhlas dari Khalid, ilmu Bashiroh dari Musa, Ilmu Waktu dari Mid’am dan ilmu Niat dari Al Aswat. Kemana semua itu akan membawamu? Ataukah diri ini (sengaja) lupa?
‘Al haq yang tiada terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang tertata rapi’, demikian wasiat dari Ali bin Abu Thalib si penghulu ilmu.
‘Barang siapa melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu, maka cegahlah dengan lisanmu. Jika tidak mampu cegahlah dengan hatimu. Dan itulah selemah lemah iman’ (H.R. Muslim)
Mencegah kemungkaran dengan hati adalah iman yang paling lemah. Hati yang berlepas diri dari virus hazad yang menggerogoti amal, mengundang bibir untuk mencibir serta mulut untuk menghujat sesama saudara. ‘Mencegah’ dengan lisan atau tulisan berarti perkataan yang baik atau lebih baik tanpa hembusan kebencian juga perpecahan. Sedang bila dengan tangan lewat kekuasaan yang legal. Hingga di tangan tidak ada lagi kayu bakar yang menyulut api perpecahan semakin berkobar.
Di satu sisi dakwah ini digerogoti (kalau tak boleh dibilang menghasut) yang berlebihan dari media yang menjadi rujukan umat islam hanya karena dakwah ini berusaha merubah cara pandang menjadi inklusive (rahmatan lil ‘alamin). Tulisan yang katanya nasehat tapi menafikkan prinsip ukhuwah yang dibangun di atas kesatuan aqidah. Dimana ia seharusnya mampu menumbuhkan itsar atau minimal tumbuh sikap salamatush shadr sebagaimana termaktub dalam Manhaj Dakwah.
Sementara di sisi lain umat islam disuruh belajar dan bercermin bagaimana seorang PM Turki, Tayyib Recep Erdogan yang berkali-kali harus meyakinkan bahwa partai yang dia pimpin tidak bertentangan dengan azas politik negara sekulernya. Agar AKP, partainya terbebas dari tuntutan pembubaran.
Kini aku sadar, kenapa ditekankan untuk senantiasa meluruskan dan memperbaiki niat.
‘Tidak bisa tidak’, kini
Sang Murrobi melintas di pikiran.
“Kita harus berjama’ah, bersatu. Sekuat apapun sebatang lidi bisa apa? Tapi kalo sudah diikat menjadi sapu, kotoran mana yang tak bisa dibersihkan?”, lanjut ustadz Rahmat Abdullah.
“Tapi ustadz, lidi dalam sapu juga bisa patah, bukan?”
“Dan Sungguh, aku tak ingin jadi lidi yang patah,” azzamku membulat.
Seandainya keputusan Qiyadah itu salah, mudah bagi Allah me-minimize resiko yang akan menyertai. Tentu dengan syarat: tsiqah pada jamaah.
Innamal a’malu binniyat, wa likullimri in maa nawaa. Yadullah ma’al jama’ah. (wied)

Halmahera Utara, awal Juni ’09

( Diambil dari sebuah email sahabat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Juli 2009 by in Politik and tagged , .
%d blogger menyukai ini: