Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Ramadhan, Perubahan dan Etos Kerja

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al Baqarah: 183)

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka, mengapa kita harus menjadi takwa? Karena, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” (At Tholaq: 2 -3). Lantas, siapakah manusia yang tidak ingin diberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang dihadapinya? Atau, adakah manusia yang tidak punya masalah dan tidak mengharapkan rizki apalagi dari arah yang tidak disangka? Maka, jika dikirimkan surveyor ke seluruh manusia di dunia, niscaya manusia akan berkata kami punya masalah dan butuh jalan keluar serta kami membutuhkan rizki untuk hidup kami di dunia. Bukan hanya sekedar tentang rizki berupa rumah atau mobil, rizki berupa top line atau bottom line pendapatan perusahaan, rizki kesehatan atau waktu luang, namun lebih dari itu.

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka, siapakah yang diundang untuk berubah menjadi takwa? Merujuk kepada ayat perintah puasa, maka orang berimanlah yang diwajibkan untuk berpuasa. Lantas, siapakah yang dapat disebut sebagai orang beriman? “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS Al Anfal: 2-3).

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka, kapan kita harus mulai berubah? Saat ini adalah moment yang tepat untuk berubah, saat Ramadhan hadir diantara kita. Perubahan janganlah ditunda, karena mungkin ini Ramadhan terakhir kita. Karena jika kita menunda dan Allah berkehendak berbeda dengan rencana kita, maka kata penyesalan bukanlah hal yang indah untuk diucapkan dan dikenang. Karena “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan” (Ali Imron 185).

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka, dari siapa kita harus mulai berubah? Berubahlah mulai dari diri sendiri, “Ibda bi nafsik” katanya. Karena dari diri sendiri itulah semuanya bermula. Ia akan bermuara kepada keluarga, kumpulan masyarakat dan akhirnya membentuk suatu Negara. Jika masing-masing diri ini bertakwa, maka keluarga akan bertakwa, masyarakat akan bertakwa, dan Negara akan bertakwa. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya “(QS AL A’rof: 96).

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka, berubahlah agar memiliki salimul aqidah atau akidah yang selamat. Akidah yang selamat adalah akidah yang bersih dari syirik, khurafat dan tahayul. Akidah yang selamat adalah kita tidak berlindung kepada benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan seperti keris, akik, jimat, isim atau wafaq. Akidah yang selamat adalah kita tidak takut dengan benda-benda yang dianggap keramat seperti pohon beringin, kuburan, atau patung sehingga kita harus mengikuti ritual tertentu karenanya. Akidah yang selamat adalah kita tidak ikut-ikutan melakukan tanam kepala kerbau kala akan membangun sesuatu, mandi kembang tujuh rupa agar selamat atau larung sesaji untuk meminta rizki. Akidah yang selamat adalah kita tidak mendatangi dukun, paranormal, atau peramal untuk meminta sesuatu pertolongan atau menanyakan masa depan. Akidah yang selamat adalah kita tidak menggunakan gunting untuk melindungi orang hamil, menggunakan bawang dan cabe untuk menolak hujan, atau menggunakan gelang benang untuk melindungi bayi. Itulah aqidah yang selamat, karena sebenarnya semuanya itu adalah tipu daya syetan kepada manusia. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Karena, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS Az Zumar: 3)

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka, berubahlah agar melakukan shohihul ibadah atau ibadah yang benar. Ibadah yang benar adalah ibadah yang memiliki landasan dalam Al Qur’an dan Sunnah melalui pendapat para salafuna shalih. Ibadah yang benar bukanlah ibadah yang didasarkan kepada tradisi para orang tua atau dengan alasan siapa tahu sampai atau dengan alasan jaga-jaga. Karena, jika ibadah itu ‘la aslalahu’ atau tidak ada asal usulnya maka ibadahnya tertolak sebagaimana hadits dari Aisyah ra “ Barang siapa membuat-buat hal baru dalam urusan (ibadah) yang tidak ada dasar hukumnya maka ia tertolak” (HR Bukhori Muslim dalam Hadist Arbain an Nawawiyah). Yakinlah bahwa tidak ada satupun diantara kita yang ingin rugi setelah beribadah dengan segala daya upaya berkorban waktu, harta, dan tenaga namun tertolak karena tidak ada landasannya.

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki matinul khulq atau akhlak yang sempurna. Ahlak yang sempurna adalah akhlak yang baik kepada makhluk dan akhlak yang baik kepada Allah SWT. Memiliki akhlak yang baik dengan cara meneladani peri kehidupan Rosulullah SAW karena “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS Al Qolam: 4). Akhlak Rosulullah adalah Sidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah selain istiqomah, jujur, zuhud, transparansi dan peduli yang berbuah keikhlasan.

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki qowiyul jismi atau jasad yang kuat. Jasad yang kuat bukan hanya menopang kegiatan dunia kita sehari-hari sehingga dapat bekerja dengan prima. Jasad yang kuat mendukung pelaksanaan ibadah kita kepada Allah seperti Sholat, puasa, dan haji. Itulah mengapa Rosulullah bersabda “Mu’min yang kuat lebih aku cintai daripada mu’min yang lemah (HR. Muslim).

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki mutsaqoful fikri atau berwawasan dalam berpikir. Pada jaman ini, siapa yang memenangkan pemikiran dialah yang menguasai dunia. Itulah yang disebut ghowzul fikri atau perang pemikiran. Dengan memiliki wawasan yang luas maka kita akan terhindar dari tipu daya sehingga kita tidak akan menderita sipilis (sekuleris, liberalis, pluralis) yang ujungnya adalah pemiskinan bangsa dan akidah ummat. Keunggulan orang yang berwawasan yang luas telah Allah beritahukan melalui firman-Nya “Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Az Zumar: 9)

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki munazhzhomun fi syu’unihi atau teratur dalam urusan. Teratur dalam urusan berarti melakukan manajemen dalam setiap kegiatannya. Sesuatu kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan dengan baik dapat diartikan 99% keberhasilan
, itulah yang disebut professional. Salah satu keteraturan itu adalah adanya system manajemen mutu dan adanya Project Management Book of Knowleged. Allah sendiri telah mencontohkan untuk melakukan manajemen melalui firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya.” (QS AL Baqarah: 282)

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki nafi’un li ghoirihi atau bermanfaat bagi orang lain. Salah satu konsep manajemen mutu adalah menghasilkan produk yang terbaik untuk pelanggan, dimana pelanggan adalah setiap pribadi/organisasi setelahnya. Bagian operasional memiliki pelanggan pihak luar (client) sehingga ia berupaya menghasilkan produk akhir sesuai Quality, Cost dan Time of Delivery yang telah disepakati. Bagian pengembangan memiliki pelanggan bagian operasional sehingga ia berupaya menghasilkan produk pengembangan yang terbaik buat bagian operasional. Bagian dukungan bisnis (keuangan, umum, SDM/HRD) memiliki pelanggan seluruh bagian sehingga ia berupaya memberikan dukungan agar kegiatan tiap-tiap bagian dapat beraktifitas dengan maksimal. Itulah yang disebut saling bermanfaat untuk mencapai tujuan bersama, karena Rosulullah telah bersabda : ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Qudhy dari Jabir).

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki mujahadatul linafsihi atau berjuang melawan hawa nafsu. Manusia dan binatang sama-sama memiliki hawa nafsu seperti nafsu ingin makan, ingin tidur dan melampiaskan syahwat. Yang membedakan adalah manusia diberikan Allah untuk memiliki akal sebagai ‘pengendali’ atas nafsu yang dimilikinya. Di bulan Ramadhan ini Allah telah membantu kita dengan membelenggu Syetan saat kita memerangi hawa nafsu agar mengikuti ajaran Islam. Seharusnya, dengan dibelenggunya syetan maka perang kita terhadap hawa nafsu akan lebih mudah. Ingatlah selalu sabda Rasulullah Saw : Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki haritsun ‘ala waqtihi atau pandai menjaga waktu. Setiap orang diberikan waktu yang sama setiap hari selama 24 jam, namun mengapa akhir masing-masing berbeda. Ada yang memanfaatkan waktunya sehingga ia lebih pandai atau lebih kaya dari orang lain sehingga munculah pepatah waktu adalah emas untuk menggambarkan betapa berharganya waktu atau waktu adalah pedang untuk menggambarkan betapa tajamnya waktu karena jika telah lewat maka kita tidak bisa kembali. Bahkan Allah SWT sendiri bersumpah beberapa kali dalam AL Qur’an dengan waktu seperti wal ‘asri, wal fajri, wadh dhuha, atau wal lail untuk memberitahu kita arti pentingya waktu. Sesuai dengan anjuran Rosulullah tentang waktu maka kita harus memanfaatkan waktu muda sebelum tua, waktu sehat sebelum sakit, waktu kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sempit dan waktu hidup sebelum mati. Pandai menjaga waktu juga berarti bahwa kita bisa mengatur rapat-rapat kita agar tetap bisa sempat sholat jama’ah di masjid. Hentikanlah dulu sepenting apa rapat kita sementara untuk memberikan porsi waktu sholat jama’ah di Masjid. Rapat adalah untuk mencapai kesuksesan di dunia melalui tercapainya target perusahaan. Namun alangkah lucu jika target perusahaan adalah kesuksesan namun ketika Allah-Tuhannya menyeru “Mari menggapai kesuksesan/kebahagiaan” melalui lisan muadzin dan kita lalai untuk memenuhinya.

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka berubahlah agar memiliki qodirun ‘alal kasbi atau mandiri secara ekonomi. Mandiri secara ekonomi berarti kita memiliki nafkah untuk mencukupi diri dan keluarga. Nafkah tersebut dapat karena kita bekerja kepada oranglain atau kita memiliki usaha sendiri. Dengan mandiri secara ekonomi maka kita mampu memenuhi syarat untuk melaksanakan ibadah seperti sholat, zakat, puasa dan haji. Dengan Mandiri secara ekonomi maka kita akan mampu bertahan dari kekafiran karena kemiskinan dekat dengan kefakiran. Maka memiliki keahlian adalah sebuah kewajiban. Keahlian itu dapat berupa akuntan, suveyor, verifikator, inspektor, manajemen projek, administrasi, officer/specialist, dan keahlian lainnya. Disinilah kita dituntut untuk memiliki sifat amanah atau bertanggungjawab. Karena, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu.” (HR Bukhari dan Muslim). Jadi pemimpin bukanlah hanya manajer atau direktur, namun seorang suami adalah pemimpin keluarganya, seorang istri adalah pemimpin di rumahnya, seorang pegawai adalah pemimpin atas pekerjaanya dan semua akan dimintai pertanggungjawabannya.

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka jika kesepuluh perubahan diri diatas telah kita lakukan, tentunya kita telah menjadi muslim yang sempurna yaitu muslim yang bertakwa. Seorang yang bertakwa pasti akan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan padanya dengan paripurna. Seorang yang bertakwa maka ia akan memanfaatkan waktunya dengan baik sehingga ia terhindar dari datang terlambat atau menggunakan waktu kerja untuk tidur atau aktifitas pribadi dengan alasan yang penting absensi sempurna. Seorang yang bertakwa maka ia akan memiliki jasad yang kuat sehingga tidak gampang sakit untuk menopang aktifitas pekerjaanya. Seorang yang bertakwa akan memiliki wawasan yang luas sesuai kebutuhan unit organisasinya. Seorang yang bertakwa akan malu untuk memakan gaji buta sementara rekan kerjanya yang lain tak kenal lelah dan waktu melaksanakan tugasnya sebagai karyawan. Seorang yang bertakwa juga tidak akan melakukan korupsi dari tempatnya bekerja dengan melakukan deal – deal rahasia dengan client, membuat kwitansi fiktif atau memanipulasi laporan keuangan. Seorang yang bertakwa akan mengerahkan segala potensi dan kompeternsi dirinya untuk kemajuan perusahaan. Diatas semua hal tersebut maka sorang yang bertakwa dapat disebut memiliki etos kerja yang tinggi untuk kepentingan bersama mencapai tujuan organisasi/perusahaan.

Ramadhan adalah momen perubahan, berubah agar bertakwa. Maka perubahan itu tidak akan terjadi tanpa pertolongan dari Allah SWT. Untuk itu kini saatnya kita berdo’a. berdo’alah langsung kepada Allah tanpa perantara. Kalaupun dengan perantara (tawazul) maka berperantaralah dengan orang sholeh yang masih hidup bukan dengan kuburannya atau berperantara dengan amal terbaik kita. Hal ini sesuai firman Allah : “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al Baqarah 186)

Agar do’a kita diterima, maka berdo’alah diwaktu waktu mustajab diantaranya saat menunggu iqomah, saat pagi dan petang, saat sepertiga malam, dan saat kita didzolimi. Namun, ingatlah selalu untuk mensucikan diri terutama nafkah yang kita cari sesuai dengan sabda Rosulullah saw : Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang mukmin segala apa yang diperintahkan kepada para Rosul. Allah berfirman :”Wahai para Rosul, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal sholih (QS Al Mukminun: 51).  Allah juga berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari makanan yang baik-baik yang kami rizkikan kepada kalian (QS Al Baqarah: 72).  Lalu Rosulullah bercerita tentang seorang laki-laki yang menempuh perjalanan jauh, hingga rambutnya kusut dan kotor. Ia lalu menengadahkan kedau tangannya ke langit seraya berkata “Ya Rabb, ya rabb”, sedangkan makannnya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan ia kenyang dengan yangharam. Maka bagaimana mungkin do’anya dikabulkan” (HR Muslim).

Semoga Allah menjadikan kita orang bertakwa untuk kemajuan diri, kemajuan perusahaan, kemajuan Negara dan bangsa serta agar kita dapat bertetangga dengan Rosul di Syurga. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Agustus 2012 by in Islam and tagged , .
%d blogger menyukai ini: