Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Apa Arti Rumah menurut Ayah?

Seorang lelaki baru saja tiba dirumahnya setelah 2 jam berjibaku dengan kemacetan Jakarta. Tiba dirumah telah terhidang segelas susu hangat buatan istrinya. Duduklah ia sambil menikmati hangatnya minuman tersebut, tiba – tiba ia terkaget mendengar sebuah pertanyaan dari istrinya: “Apa arti rumah menurut Ayah?

Sejenak terdiam sedikit termenung ditambah terpaku dan finalnya kaget atas pertanyaan yang didengarnya. Dalam kebingungan beberapa detik kemudian, ia beralih bertanya: “Apa Maksud Bunda?” Sang istri menjawab untuk memperjelas:” Apakah rumah bagi ayah hanya sekedar tempat untuk tidur?”

Speechless- sang suami mendengar penegasan dari istrinya. Hatinya meraba-raba gerangan apakah maksud istrinya. Terlintas di ingatanya peristiwa beberapa waktu yang lalu kala mertuanya bilang apa rumahnya ndak akan dicat karena warnyanya sudah kusam dan beberapa sudut sudah mulai mengelupas. Kemudian ‘keluhan’ lain ketika gordin jendela satu-satunya yang mungkin membutuhkan teman kala ia dicuci… Hmmm apakah ini ya … Ditengah degupan jantung yang berkejaran dalam kebingungan yang semakin melanda sang suami hanya berkata: “Coba bunda cari kira-kira apa arti rumah menurut islam, menurut rosul, menurut Umar?’ Lantas sang suami meninggalkan istrinya di meja makan untuk menikmati sayur bayam kreasi istrinya tersebut untuk mengakhiri pembicaraan.

Ah … andai bunda tahu apa yang dalam hatiku … atau apakah engkau belum mengenalku setelah beberapa tahun sebelum menikah ?

Bunda, bukankah engkau tahu sejak awal menikah suamimu ini adalah tipe lelaki sederhana. Tidak mudah tergoda dengan pakaian model baru, atau makanan restoran yang mewah. Bukankah seringnya membeli pakaian baru ketika pakaian lama memang sudah ‘tidak layak’ lagi untuk menemani aktifitas. Kemudian kapanpun engkau suguhkan sarapan nasi uduk atau cukup makan dengan nasi dan telur dadar tidak pernah ada complain kepadamu. Dan bukankah sikap ini adalah yang kutemukan kepadamu, dan yang kita ingin didikkan kepada anak keturunan kita bahwa pembelanjaan sesuatu adalah karena ‘KEBUTUHAN’ bukan ‘KEINGINAN’ karena ini yang kita pahami sebagai kesyukuran atas rizki yang kita terima dan bukan bagian dari bertindak ‘PELIT’. Bukankah anak kita juga hafal :”Innal mubadzirina kanu ikhwana syayathin – sesungguhnya kemubadziran/pemborosan adalah temannya syetan”. Lantas ada apa dengan pertanyaanmu?

Bunda, rumah bagi suamimu ini adalah bagaikan sarang bagi burung untuk pulang setelah seharian beraktifitas mencari nafkah. Pulang untuk bercengkerama dengan sanak keluarga. Bertutur kata dengan bahasa ‘lisan’ bukan bahasa ‘batin’ karena kita bukan aliran batiniyah atau punya kemampuan telepati.

Bunda, rumah bagi suamimu adalah penyemangat pulang karena ada koordinta GPS yang telah terpatri di dada sehingga suamimu ini tidak mencari ketenangan di rumah-rumah ‘tetangga’, tidak mencari cinta kepada mereka yang menjajakannya, tidak mencari harmoni kehidupan di tempat yang bukan seharusnya.

Bunda, rumah bagi suamimu ini adalah sebagai tempat untuk sama – sama belajar menjadi makhluk yang ingat kepada Tuhannya, rumah tempat menambah amal nafkah suami, sedekah istri dan taatnya anak. Rumah tempat berbagi keluh dan kesah setelah seharian beraktifitas, dari pada kita berkeluh kesah di dinding facebook atau twitter seolah kita sedang berdo’a di dinding ratapan.

Bunda, ayah lebih memilih cat rumah kusam, baju bukan baru, makan telor dadar tapi diantara anggota keluarga kita tercitpa harmoni atas cinta yang Allah tumbuhkan dalam hati kita yang dengan cinta tersebut kita diberikan kemudahan untuk beribadah kepada-Nya dan kita bisa bercanda diatas apapun kondisi yang kita alami sebagai bagian dari qodho dan qodhar-Nya. Walau nanti jika Allah turunkan rizki maka ada waktunya kita mengecat rumah, membeli baju baru dan makan di ‘SEDERHANA BINTARO”.

Bunda, bukankah sudah banyak kita melihat kondisi riil masyarakat kita yang berkiblat pada sinetron – sinetron ‘RUMAHAN’ dimana ditampilkan sosok keluarga yang ‘kaya’ dengan rumah yang megah bertingkat dan cat ‘tahan’ cuaca sesuai iklan ditambah gordin berlipas tiga menemani meja makan marmer dengan iga bakar diatasnya. Dalam paradigma hedonistik maka itulah yang disebut bahagia, namun lihatlah antara suami, istri dan anak jarang bertegur sapa apalagi bercanda bersama. Boro boro ingat untuk sholat kepada Sang Pencipta, malah memilih pergi ke tempat karaoke dan spa.

Bunda, sebenarnya kearah manakah maksud pertanyaanmu itu? Perlukah kita ‘rakor’ dibawah pohon kersen untuk membicarakan ini sambil menikmati angin sepoi – sepoi membelai es buah dan ubi goreng?

Kutunggu jawabanmu …

#lagi teringat kisah ‘protes’ istri Nabi yang minta nambah nafkah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 Juni 2013 by in Keluarga.
%d blogger menyukai ini: