Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Diskusi “Cinta”

Seorang laki-laki bernama Umar memperhatikan sahabatnya Ali sebulan terakhir ini. Ali adalah suaminya Isyah. Melalui status di facebook, dilihatnya sahabatnya asyik membuat status tentang seorang perempuan bernama Zahra, me ‘like’ statusnya dan mentag fotonya. Status yang memuji akhlaknya, memamerkan segala kelebihannya, mengagumi kecantikannya dan sampai melawan siapapun yang mengkritik apalagi menyalahkan sesuatu pada si Zahra.

Akhirnya, karena penasaran Umar bertanya kepada Ali.

Umar    : Li, kamu lagi jatuh cinta ya sama si Zahra?

Ali           : Apa Mar? jadi kamu nuduh saya jatuh cinta sama Zahra. Kamu nuduh saya sedang bermain api dan menggadaikan masa depanku dengan Isyah?

Umar    : Gak gitu Li? Cuma aku perhatikan status dan komenmu kok mengarah ke situ.

Ali           : Mar, jangan begitu dong.. hanya karena statusku kamu langsung menuduhku cinta kepada Zahra. Kalau kamu mau buat kesimpulan begitu, awasi aku 24 jam, baru buat kesimpulan. Kamu itu sama aja dengan Saidah, aku yakin kamu sekongkol dengan dia karena dia juga menuduhku hal yang sama. Ditambah lagi Saidah bilang, Zahra itu panuan, dah gitu katanya anak preman.

Umar    : Waduh Li, kok bawa-bawa Saidah segala. Kamu kan tahu dia juga nggak suka sama aku, kok biang aku ini sekongkol ma dia. Aku Cuma mau klarifikasi apa benar kamu cinta sama Zahra, ini juga keprihatinan aku sebagai kawanmu akan masa depanmu.

Ali           : Mar, definisikan dulu apa itu cinta? Trus cinta yang mana: 1. Cinta sebagai ayah. 2. Cinta sebagai kaka. 3. Cinta sebagai kekasih. 4. Cinta sebagai adik atau 5. Cinta sesama manusia. Kamu definisikan dulu masing-masing cinta itu, ngerti nggak. Kalo nggak ngerti gak usah nanya aku sedang jatuh cinta nggak, baru kamu pilih yang kamu tuduhkan padaku cinta yang mana. Baru aku jawab.

Umar    : Li, kamu itu mengingatkanku akan kisah pembeli dan penjual kambing.

Ali           : Yang mana Mar?

Umar    : Pada suatu hari ada pembeli –sebut saja B- yang datang ke kandang kambing untuk membeli seekor kambing. Dipintu kandang disambut oleh Penjual –sebut saja P- dengan senyum ramah.

B: Pak, aku mau beli seekor kambing yang didalam. Berapa harganya.

P: Yang mana? Yang hitam apa yang putih?

B: Yang mana saja?

P: Tidak bisa, tentukan dulu yang mana? Hitam atau putih?

B: Ok. Yang hitam? Berapa harganya?

P: Oh, yang hitam? Yang jantan apa yang betina?

B: Yang mana saja?

P: Tidak bisa, tentukan dulu yang mana? Yang jantan apa yang betina?

B: Ok. Yang jantan? Berapa harganya?

P : Oh, yang jantan? Yang dari Garut apa dari Purworejo?

B: Yang mana saja?

P: Tidak bisa, tentukan dulu yang mana? Yang dari Garut apa dari Purworejo?

B: Ok. Yang dari Garut? Berapa harganya?

P: Oh, yang dari Garut? Yang tanduk panjang apa pendek?

B: (sudah mulai kesel) Terserah. Kalo masih muter-muter aku pindah penjual nih.

P: Ok, baik – baik.. yang tanduk panjang 1 juta.

B: Kalo yang tanduk pendek?

P: Yang tanduk pendek juga 1 juta.

B: (mulai sadar dipermainkan) Itu yang dari Garut, kalo dari Purworejo tanduk pendek berapa?

P: Oh, yang dari purworejo.. sama mau tanduk pendek atau tanduk panjang 1 juta.

B: #@!@@#???? (plintir jengot)

Ali           : Hahahahahah… (dalam hati bilang, kena lu Mar gua kibulin/bohongin)

@jurusngeles.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Juni 2013 by in Uncategorized and tagged .
%d blogger menyukai ini: