Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

“Mewujudkan Syurga Dalam Rumah Tangga”

Ust. Sukeri Abdillah, MBA

Ringkasan Kajian Lintas Perkantoran, Kamis, 24 April 2014, Masjid Al Hakim PT SUCOFINDO (Persero)

Kerjasama Yayasan Portal Infaq-Majelis Ta’lim PT SUCOFINDO (Persero)

Oleh: Agus Suryanto

Kajian ini berguna untuk 2 golongan:

  1. Para pemuda/pemudi yang sedang berencana menikah atau sedang dalam kebingungan untuk menikah. Pemuda/pemudi yang sedang berencana menikah adalah mereka yang sudah mempunyai calon atau sedang dalam pencarian namun telah mantap untuk menuju gerbang pernikahan. Pemuda/pemudi sedang dalam kebingungan untuk menikah adalah mereka mereka yang sudah mempunyai calon bahkan sudah beberapa tahun atau sedang dalam pencarian namun masih ragu untuk menuju gerbang pernikahan dengan alsaan bingung pernikahan itu akankah seperti syurga atau neraka.
  2. Para suami/istri yang telah menikah tanpa batasan usia. Para suami/istri yang telah menikah tanpa batasan usia adalah mereka yang sudah menikah yang sedang mengkondikan rumah tangganya sesuai kaidah keislaman menuju sakinah mawadah warahmah atau yang setelah menikah beberapa tahun dan memiliki anak namun dalam hati kadang terbersit ‘aku sudah tidak ada cinta dengan pasangan’.

 

Secara potret terdapat 4 Tipe rumah tangga:

  1. Rumah tangga Abu Lahab adalah potret rumah tangga suami dan istri saling bekerjasama dalam kemungkaran kepada Allah
  2. Rumah Tangga Nuh adalah potret rumah tangga sang suami sholeh, istri senantiasa dalam kemungkaran kepada Allah
  3. Rumah tangga Asiyah adalah potret rumah tangga sang istri sholeh, suami senantiasa dalam kemungkaran kepada Allah
  4. Rumah tangga Muhamma saw adalah potret rumah tangga suami dan istri yang sholeh

Secara operasional terdapat 4 tipe rumah tangga:

  1. Baitu Jannati: yaitu rumah tangga yang dinamis dengan riak-riak sesekali namun tidak dominan serta dalam rangka beribadah kepada Allah. Contoh jenis ini adalah rumah tangga Rosulullah dimana suam istri saling mengisi kekurangan, ada pertengkaran/riak-riak kecil sebagai bumbu kehidupan namun selanjutnya dikembalikan kepada ketentuan Islam
  2. Baiti Naari: yaitu rumah tangga yang terlalu dinamis, terlalu banyak riak-riak (dominan bertengkar) sehingga rumah bagaikan neraka. Dimana ada kisah seorang suami akan pulang kerja setelah istrinya tidur, jadi setiap hari menelpon anak tertuanya untuk bertanya apakah ibunya sudah tidur. Hal ini karena sang suami kala bertemu istri bagaikan bertemu mosnter yang menyeramkan dengan suasana bagaikan perang dunia ketiga. Bahkan sampai efeknya sang suami menjadi ‘maaf’ impoten.
  3. Baiti Qobri: yaitu rumah tangga yang diam/tidak dinamis, jarang bertemu, jarang bercakap, apalagi menjalankan ibadah biologis. Seolah memiliki ilmu tetepati atau menggunakan sms dalam komunikasi. Dimana ada kisah sebuah rumah tangga yang ketika istrinya terkena kanker payudara, maka sang sumai sama – sekali tidak tahu. Sang istri berobat sendiri, kontrol ke rumah sakit sendiri saat suam asik dengan dunianya.
  4. Baiti ‘insilah’: yaitu rumah tangga dimana sang istri dan sang suami tidur terpisah baik masih satu rumah atau beda lokasi karena tuntutan pekerjaan. Ketika satu dua tahun mungkin tidak masalah, namun tahun berikutnya mulailah masalah bertamu ke rumah tangga itu. Diman ada kisah seorang ibu berusia 60 tahun bercerita dia sudah pisah ranjang dengan suaminya selama 15 tahun walau serumah karena suaminya sudah tidak banyak uang. Atau kisah lain ada suami atau istri yang harus terpisah jarak karena tuntutan pekerjaan saat tidak ada satupun diantara mereka yang mau mengalah untuk ikut pindah ke kota pasangannya.

Fenomena suatu pernikahan dilakukan karena 3 kondisi:

  1. Kondisi sang suami/istri keduanya sama – sama mencintai karena sudah ada jalinan percintaan sebelum pernikahan. Fenomena ini sebenarnya adalah ujian, karena setelah akad nikah mereka harus membuktikan ‘keberadaan’ cintanya dalam rumah tangga itu. Ada kisah pasangan yang telah pacaran 10 tahun dengan alasan untuk saling mengenal, namun ketika baru 3 bulan menikah mereka mengajukan cerai dengan alasan tidak ada kecocokan.
  2. Kondisi sang suami/istri bertepuk sebelah tanggan karena hanya salah satu yang mencintai pasanganya sebelum pernikahan. Fenomena ini sebenarnya adalah rahmat, karena bagi yang mencinta ia mendapatkan sosok yang dicintanya sebagai rahmat Allah, bagi yang tidak mencinta maka ia mendapat rahmat dari Allah berupa keikhlasan untuk menerima orang yang tidak dicintanya.
  3. Kondisi sang suami/istri tidak ada cinta sebelum pernikahan. Fenomena ini sebenarnya adalah keutamaan (fadhoil) karena mereka mulai dari titik nol untuk mengenal dan mencintai pasangan seumur hidup mereka. Kondisi ini yang terbukti pada orang tua kita dulu yang dijodohkan, yang lebih awet membina rumah tangga.

Terdapat 3 titik kritis dalam pernikahan yang kadang muncul pada paruh 10-15 tahun pernikahan:

  1. Terkenanya penyakit fisik. Dimana pasangan diuji untuk tetap istiqomah merawat pasangannya atau malah meninggalkanya
  2. Terkenanya sakit ekonomi, dimana terjadi kekurangan ekonomi/kebangkrutan. Disinilah akan diuji bagaimana pasangan untuk bangkit kembali dengan saling tolong-menolong atau malah berpisah menyelamatkan diri sendiri
  3. Terkenanya penyakit mental, dimana pasangan diuji untuk menerima atau menolak kembali pasanganya yang punya selingkuhan (PIL/WIL) baik rekan kerja/pembantu/PSK, melakukan korupsi/dihukum, menenggak miras, dll

Dikisahkan ada seorang ibu yang menurut rekan-rekannya hebat karena mau menerima suaminya kembali yang telah menghilang sejak tahun pertama pernikahannya dengan meninggalkan 1 anak, kemudian datang pada tahun ke-15 untuk memberikan surat cerai dan memberitahu sudah menikah dengan wanita lain, kemudian datang lagi tahun ke-25 untuk minta kembali ke mantan istrinya tersebut dalam kondisi strok. Sang mantan istri akhirnya menerima dengan alasan iba walau anak dan cucunya menolak seraya berkata:” saya tidak ada hati dengan dia dan dia adalah mantan suami, namun salahkan aku jika merawat bapakmu dan kakekmu”. 10 tahun kemudian sang mantan suami meninggal, dan sang mantan istri berkata ke temennya:’kok aku sekarang meraka kehilangan ya, padahal pas dia kembali tidak ada perasaan apa – apa kecuali iba”.

Disini dituntut orang – orang luar biasa yang bisa melalui ketiga titik kritis tersebut, namun tetap dengan 2 pilihan:

  1. Pilihan untuk ridho dengan apapun kondisi kritis yang dialami pasangan kita walau sudah tidak ada ‘cinta’ hanya ‘iba’ untuk sebuah alasan tertentu misalnya ‘demi anak’ atau ikhlas atas ujian Allah tersebut. Disinilah kehebatan itu akan berada.
  2. Pilihan untuk ‘berpisah’ bagi suami dengan menceraikan atau bagi istri dengan menggugat cerai.

Tahapan pernikahan dibagi 2:

  1. Pra nikah berupa ikhlasun niyah dalam rangka ibadan dan menumbuhkan kekuatan
  2. Nikah berupa ta’aruf, tafahum, ta’awun dan takaful seumur hidupnya.
    1. Ta’aruf adalah untuk mengetahui kondisi pasangan seutuhnya, dimana baru akan terbuka seiring berjalannya waktu. Karena kondisi akan berbeda saat belum punya anak, sudah punya anak, anak sudah besar, istri/suami kelihatan tua, dst. Maka kenalilah terus menerus sebagai awal tafahum.
    2. Tafahum adalah memahami kondisi pasangan yang sudah kita ketahui. Menerima kelebihannya dan menerima kekurangannya untuk saling melengkapi. Memahami bahwa suami/istri kita adalah bukan malaikat. Disinilah toleransi dibutuhkan. Bekerjasama atas yang disepakati, bertoleransi atas yang berbeda dan jikapun ada sedikit rasa benci maka yakinlah pasangan kita pasti mencintai kita karena ‘kesepahaman itu penuh kemaafan’.
  • Sadarilah bahwa laki-laki itu suka berbagi kebahagiaan namun tidak suka berbagi kesedihan, mungkin karena ego kelelakiannya agar tidak dilihat sebagai sosok yang lemah, maka saat dia sedang bersedih jangan dipaksa untuk bercerita. Sebaliknya wanita suka berbagi kesedihan, maka saat dia terus bercerita tentang masalah dituntuk kesabaran untuk mendengarkan.
  • Sadarilah bahwa laki-laki suka berbagi sebagaimana ia senang mendapatkan, maka jangan marah ketika suami suka berbagi kepada saudaranya, diskusikanlah dengan baik. Salah satu efek berbagi yang tidak disukai wanita adalah berbagi dalam bingkai poligami. Sebaliknya wanita suka menerima sebagaimana ia senang mendapatkan, maka sering-seringlah memberi kepada istri agar ia senang, “happy life is happy wife”
  • Sadarilah bahwa laki-laki butuh dipahami dan dibiarkan sendiri sebagaimana wanita butuh diperhatikan dan dipuji.
  • Sadarilah bahwa jika laki-laki cemburu maka cemburunya fakta karena ia telah pegang data, sebaliknya wanita cemburunya adalah buta karena ia tidak pegang fakta namun sudah berprasangka dan mengajak perang dunia ketiga.
    1. Ta’awun adalah saling menolong/bekerjasama baik urusan dunia maupun urussan akhirat. Dikisahkan Umar bin abdul azis yang dulu saat menajdi gubernur rajin tahajud, namun kala menjadi khalifah waktunya habis urus negara maka sang istri mengimbangi dengan banyak tahajud dengan niat memberikan sebagian ruhiyahnya kepada suaminya agar tetap dalam perlindungan Allah.
    2. Takaful adalah saling menanggung yaitu memahami bahwa pasangan kita adalah superman/superwoman yang bisa segalanya. Maka ada saat kita harus mengambil alih tugasnya, ada saat kita untuk menerima kemanjaanya, ada saat kita untuk merengkunya kala ia terlihat rapuh.

Wallahu a’lam bish showwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 April 2014 by in Uncategorized and tagged , .
%d blogger menyukai ini: