Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Sudahkah Engkau ‘Mencarinya” Wahai Saudaraku…

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu mencari (berbuat) kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al Qoshosh : 77)

Saudaraku, mari belajar dari Al Qoshosh ayat 77. Pelajaran pertama, ayat dibuka dengan wab taghi .. artinya Carilah – itu sebuah perintah.. di dalam kamus bahasa Arab, wab taghi memiliki tingkat kosa kata tertinggi untuk arti mencari dianara kosa kata lainnya. Karena wab taghi itu berarti mencari yang tertinggi, mencari yang sungguh – sungguh, dan mencari yang tiada henti. Pertanyaanya Saudaraku, apa yang harus kita cari?

Maka masuklah pada pelajaran kedua, yaitu kita (diperintah) mencari Akhirat sebagai cita-cita tertinggi, cita-cita yang harus diraih dengan sungguh sungguh, dan cita – cita yang harus dicapai (berusaha) tiada henti. Hal ini karena tujuan kita adalah negeri Akhirat. Permasalahannya adalah, Akhirat dan dunia adalah satu paket. Tidak ada yang bisa langsung ke Akhirat tanpa melalui dunia, dan tidak ada yang kekal di dunia tanpa menuju akhirat. Itulah kenapa Allah ingatkan kita untuk ‘jangan lupa” sebagai pelajaran ketiga.

Pelajaran ketiga, adalah tentang jangan lupa-ini sebuah larangan. Yaitu jangan lupa tentang ‘bahagianmu’ di dunia. Pertanyaanya adalah, jika dunia adalah tempat tinggal kita, mengapa Allah berpesan untuk jangan lupa. Siapa yang bisa lupa dengan dunia pada saat ia hidup di dalamnya. Maksudnya adalah dunia itu satu paket dengan akhirat, sehingga jangan lupakan dunia untuk mendapatkan akhirat. Selanjutnya kita diberikan batasan agar yang tidak kita lupakan adalah ‘bahagian’ kita saja, bukan bahagian orang lain. Setiap jiwa telah diberikan bahagiannya, maka untuk apa kita lirik, iri, dengki dengan bahagian orang lain. Biarkan orang lain menikmati bahagiannya, dan kita juga menikmati bahagian kita untuk mencapai Akhirat, karena Akhirat harus dan hanya bisa jika kita memanfaatkan bahagian kita di dunia dengan baik yaitu bahagian kita di keluarga, bahagian kita dengan harta, bahagian kit adi pekerjaan, dan bahagian kita di masyarakat serta Negara. Pada setiap sendi dunia itu kita dapat “berbuat baik” untuk mengejar mencari Akhirat sebagai pelajaran selanjutnya.

Ya. ‘Dan berbuat baiklah’ kemudian menjadi pelajaran keempat. Yang menarik adalah, kita diperintah untuk berbuat baik sebagaimana Allah berbuat baik pada kita. Namun mungkinkah kita dapat berbuat baik seperti Allah berbuat baik? Hampir menjadi suatu hal yang mustahil bagi kita untuk memberi sebelum orang lain meminta, memaafkan sebelum orang lain meminta maaf, mengampuni sebelum orang lain meminta ampun, menjaga orang lain ketika mereka berbuat durjana, dan lain sebagainya. Artinya sangat berat untuk menyamai kebaikan Allah, karena kebaikan kadang susah diperbandingkan. Yang harus kita lakukan dari perintah ini adalah berusaha bersungguh sungguh mencapai tingkat kebaikan tertinggi dengan tiada henti ‘berbuat baik”, yang dengan itu maka kita tidak akan menyibukkan dengan ‘mencari’ kerusakan.

Pelajaran kelima atau yang terakhir adalah, jangan mencari kerusakan-kembali ini adalah larangan. Mencarinya saja dilarang, apalagi berbuatnya. Sama filosofinya dengan ‘jangan mendekati zina’, mendekatinya saja dilarang apalagi melakukannya. Segala sesuatu yang tidak sesuai denan Al Qur’an dan Sunnah pada dasarnya adalah berbuat kerusakan, dan berbuat kerusakan berarti menganiaya diri sendiri. Alangkah bodohnya seorang manusia yang mengainaya diri sendiri. Bukan saja karena Allah tidak suka terhadapt kerusakan, namun hal itu berakibat buruk bagi manusia itu sendiri di paket dunia dan akhiratnya.

Saudaraku, sedikit pertanyaan untukmu..

  1. Sudahkan engkau memiliki cita – cita yang tinggi, yang sungguh – sungguh, yang tiada henti untuk mencari sosok muslim yang bisa dijadikan panutan, teladan, tokoh, pemimpin yang santun, amanah, tidak korupsi, dan sederhana dari manapun golongan, partai, ormas, dan suku. Jika belum mencari sosok ideal yang tinggi dengan sungguh – sungguh dan tiada henti, mengapa engkau mengatakan sosok non muslim yang kasar dan belum tentu bersih dari korupsi lebih baik dari muslim yang santun tapi korupsi. Maka carilah saudaraku …
  2. Sudahkan engkau memiliki cita – cita yang tinggi, yang sungguh – sungguh, yang tiada henti untuk mengamalkan salah satu ajaran Islam dengan berhijab/berjilbab dan berbicara yang baik. Jika belum berusaha menjadi sosok ideal yang tinggi dengan sungguh – sungguh dan tiada henti dalam berjilbab dan berkata baik, mengapa engkau mengatakan bahwa lebih baik tidak berjilbab tapi berkata baik daripada berjilbab tapi berkata buruk. Berjilbab adalah satu amal, dan berkata baik adalah satu amal dimana keduanya tidak bisa dibenturkan.  Maka amalkanlah keduanya saudariku …
  3. Sudahkan engkau memiliki cita – cita yang tinggi, yang sungguh – sungguh, yang tiada henti untuk hanya menyampaikan kebenaran, meng-copas berita yang ‘valid’ yang bukan masuk dalam ‘jebakan batman’ untuk menjelekkan muslim dan islam itu sendiri. Jika belum berusaha menjadi sosok yang tinggi dengan sungguh – sungguh dan tiada henti dalam mewartakan berita yang valid, yang bukan jebakan batman, yang bukan karena rasa tidak suka, namun karena itu pantas diberitakan. Bukankah Rosul telah mewanti – wanti bahwa jika muslim selalu memberitakan apa – apa yang dia dengan (tanpa di filter, di tabayun) maka ia termasuk golongan munafik. Maka selektiflah dan tabayunlah dengan metode tertentu saudaraku …
  4. Sudahkan engkau memiliki cita – cita yang tinggi, yang sungguh – sungguh, yang tiada henti untuk selalu berada dalam kebenaran Islam. Jika belum berusaha menjadi sosok yang tinggi dengan sungguh – sungguh dan tiada henti  agar selalu dalam kebenaran Islam, mengapa kau abaikan setiap nasehat yang yang datang kepadamu dan berlari kepada selainnya hanya karena ia bukan ‘genk’ politikmu, bukan ‘genk’ nongkrongmu, bukan ‘kelas’ kekayaanmu, bukan ‘level’ tingkat pendidikanmu. Maka dengarkanlah nasehat itu darimanapun datangnya saudaraku …

#ringkasankajiandzuhurSenin23Maret2014ust.Dr.AtTabiqLuthfi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 Maret 2015 by in Uncategorized.
%d blogger menyukai ini: