Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Mendung di Langit Indonesia

15.04.15 Mendung

Hanum

Perkenalkan namaku Hanum Salsabiela, tapi aku bukan yang berada di 99 Cahaya di Langit Eropa dan dilanjutkan dengan Bulan Terbelah di Langit Amerika. Ah nama boleh sama tapi cerita boleh mirip kan. Setelah menyelesaikan Phd di Wina, Rangga Al Mahendra suamiku kembali ke Indonesia dan mengajar Mata Kuliah Etika Bisnis di Prasetya Mulya Business School sesuai dengan peminatan Doktornya. Kami tinggal di rumah orang tuaku di Perumahan Medang Lestari, persis disamping Perumahan Gading Serpong yang mulai berbenah menjadi kota dalam kota.

Walau kembali ke Indonesia, naluri jurnalisku yang telah diasah di media Heute Ist Wonderbar (hari ini luar biasa) tetap hidup meski aku sudah memiliki satu putri. Tidak ada yang kebetulan, sekenario Allah sungguh luar biasa. Pada saat landing di Bandara Soetta saat hari pertama kembali ke Indonesia, aku dipertemukan dengan kakak kelas SMA dulu yang sekarang menjadi redaktur di Majalah Sakinah yang terbit dua mingguan.

Akhirnya aku diminta bergabung untuk mengisi kolom Profil Keluarga Hebat dengan mewawancarai keluarga – keluarga yang istimewa baik yang sudah terkenal ataupun masih tersembunyi. Toh emas yang tersembunyi dalam lumpur tetaplah emas, hanya menunggu digali. Untunglah kantornya di deretan ruko Esmeralda yang bergaya Eropa seolah mengobati kerinduanku akan kota Wina ditambah lokasinya di Perumahan Gading Serpong yang dapat ku tembus melalui pintu belakang perumahanku, sungguh seolah tinggal melompati pagar perumahan.

Hari ini aku baru saja mewawancarai seorang tokoh pergerakan islam, Ust Sulthoni yang tinggal di Perumahan Dasana Indah. Dekat sih, tapi untuk menuju ke sana mobil kantor yang ku kendarai harus gesit bergerak diantara jalan – jalan rusak dan lalu lalang truk – truk pengangut pasir dan batu. Perlu konsentrasi ekstra agar mobil ini berjalan tidak seperti perahu nelayan yang diterjang ombak besar.

Ust. Sulthoni diantara kesibukannya sebagai anggota Dewan, tetaplah menjadi kepala keluarga yang bertanggungjawab, tentu sesuai kemampuannya. Dia termasuk sosok yang hanif di DPRD dengan tidak menerima pemberian selain gaji bulanannya yang dipotong partai 50%. Tidak seperti anggota dewan yang lain yang mau menerima uang transport dari Dinas atau perusahaan atau menerima prosentase dari kontraktor yang menang tender.

“Tidak Halal “katanya. Aku mengangguk saja tanda setuju.

Karena tidak banyak anggota dewan yang seperti dia, seolah dia bagai Alien yang turun ke Bumi saat berkumpul dengan rekan-rekannya. Bahkan uang transport mengisi tablig atau menjadi khotib jum’at pun tidak diambilnya lagi atas nama sudah jadi anggota Dewan. Bukan karena uang transport itu tidak halal, tapi dari sudut kepantasan dan etika.

Dari 50% gajinya tersebut itulah dia membiayai kebutuhan satu istri dan kelima anaknya, belum harus dianggarkan untuk memenuhi proposal –proposal kegiatan warga atau organisasi kepemudaan. Efeknya, dalam sebulan tidak lebih dari 5 hari keluarganya makan nasi, selebihnya singkong. Belum lagi sempat anaknya 6 bulan telat membayar SPP sampai ada salah satu murid pengajiannya tahu dan melunasinya. Disisi lain, istri beliau juga aktif mengisi pengajian muslimah di komplek.

Hebatnya, diantara kesibukan orangtuanya, kelima anaknya dapat menjadi hafidz Qur’an dan bahkan anak pertamanya sudah hafal 15 juz. Sungguh beliau dan keluarganya adalah intan diantara hedonisme dunia apapun posisi pekerjaannya. Itulah PR-ku sekaligus tugasku untuk memberikan hikmah dan pelajaran dari Ust. Sulthoni untuk disebarkan bagi kebaikan keluarga – keluarga muslim di Indonesia.

Wawancara berlangsung dari setelah Sholat Ashar sampai sekitar pukul 17.00 dan semua terekam dalam tape recorderku. Karena sudah sore maka kuputuskan untuk langsung pulang saja. Lima belas menit sebelum adzan maghrib aku telah tiba dirumah.

“Assalamu’alaikum”. Ku buka pintu dan kucium tangan Abah dan Emak, sekilas kulihat Fatima putri tunggalku yang berumur 6 tahun berlari kearahku.

“ Kok Ibu pulang cepat telat. Biasanya sebelum ashar sudah dirumah”

“Ibu harus wasancara ba’da ashar nak. Makanya telat, Fatima sudah mandi belum”. Sambil ku usah lembut kepalanya.

“Sudah”

“Ibu mandi dulu ya”. Anakku menjawab dengan anggukan kepala. Segera ku mandi dan berganti baju. Setelah itu sholat maghrib dan makan malam bersama seperti hari – hari yang lain. Tidak ada yang special hari ini. Hanya saya menatap wajah Abah, Emak dan Fatima seolah menghilangkan segala kepenatan aktifitas hari ini.

Kegiatan dilanjutkan di ruang tengah dengan mengajari Fatima Baca Tulis dan Hitung untuk persiapan masuk SD tahun ini. Ah … ternyata anakku sudah semakin besar, semakin pintar, dan semakin membutuhkan perhatian.

“Indahnya hidup, terimakasih ya Allah”. Gumanku sambil melirik bidadari kecilku yang asik mewaranai huruf dan angka.

Pukul 21.00 suara deru mobil memasuki halaman, dari suaranya ku kenal itu mobil Rangga. Segera ku berdiri mengambil air putih untuk suamiku.

Brakk. Pintu depan dibuka dengan keras. Tak ada salam. Kulihat Rangga masuk dengan muka serius dan menarik tangan kiriku lantas masuk kedalam kamar dan menutup pintunya. Dibiarkannya Fatima sendirian bengong melihat tingkah ayahnya. Kuulurkan tangan kananku kepadanya memberikan segelas air putih, namun hanya diliriknya.

“Kamu selingkuh”. Sebuah tuduhan yang bagaikan halilintar membahana di cuaca cerah.

“Hari ini ada seseorang yang meneleponku. Dia memberitahuku bahwa kamu selingkuh dengan mantan Kakak  kelasmu. Katanya kamu suka makan siang berdua, dan pas hari Sabtu kamu masuk untuk wawancara tokoh, ternyata kalian jalan berdua. Penelepon mengaku punya bukti – bukti”.

“Ya Allah mas, semua itu bohong. Percayalah mas aku tidak selingkuh. Aku .. aku setia”. Akhirnya mengalirkah sungai air mata dari kedua mataku.

“Ah, kamu yang bohong. Penelepon itu berani bersumpah kalau dia jujur. Sudah nggak usah menangis. Aku tak akan luluh dengan air matamu. Hmmm. Bener kata temenku, Orang jawa kayak aku dan orang sunda kaya kamu tidak mungkin berumah tangga dengan damai. Itu sudah kutukan perang Bubat. Kutukan atas penghianatan Hayam Wuruk yang batal menikahi Dyah Pitaloka Citraresmi. Kutukan atas matinya sang putri membela kehormatan ayahnya yang coba dihinakan Mahapatih Gajah Mada di Bubat. Sekarang terserah kamu. Aku Pergi”. Ranggapun keluar kamar.

Brak.. kembali terdengar suara pintu depan ditutup dan terdengar suara mobil melaju keluar halaman. Kulemparkan badanku ke atas kasur empuk, ku benamkan wajahku ke bantal putih dan kubasahi dengan air mataku. Sekejap kulirik Fatima berdiri di depan pintu kebingungan.

Sebuah tangan mungil, menyentuh bahuku dan merambat naik ke kepala. Ada sedikit ketenangan muncul merayap dalam hati.

“Kenapa ibu menangis”. Segera ku berbalik, kupeluk Fatima, tidak ada kata yang terucap. Dari dua mata mungilnyapun sekarang mengalir sungai. Mendungpun bergelayut diatas Perumahan Medang Lestasi. Bukan semuanya, hanya diatas rumah Abah.

***

20.04.15 Pencerahan

Rangga

Lima hari sudah sejak pertengkaran itu. Aku sudah tidak mau tidur di kamar dan memilih tidur di depan TV. Makan sehari – hari juga kulakukan diluar walau kulihat Hanum masih menyiapkannya di meja makan. Entah apa yang ada di benak anakku Fatima melihat semua ini. Aku juga tak peduli dengan kedua mertuaku yang semakin terlihat tua setelah mendengar dari Hanum permasalahan kami. Bahkan Abah sampai kumat asam uratnya, mungkin ia banyak pikiran namun belum berani memanggilku. Ah .. Terserah, hati dan otakku masih mendidih.

Siapa yang tidak marah mendapat kabar istrinya selingkuh. Laki – laki mana yang rela istrinya berduaan dengan laki-laki lain meski untuk curhat, apalagi jika sampai kontak fisik. Otakku akan tenang hanya saat aku mengajar, itupun lebih karena rasa tanggungjawabku kepada kampus tempat aku berkarya, tidak kurang tidak lebih.

Pagi ini, aku sengaja berangkat pagi. Ingin ku tumpahkan keluh kesah ini kepada Allah pemilik alam di Mushola kampus setelah sholat dhuha. Kulajukan mobilku melalui pintu belakang perumahan yang tembus ke Jalan Boulevard Gading Serpong. Kulihat satpam masih terlihat mengantuk kala melihatku lewat. Kususuri ruko – ruko bergaya eropa klasik yang mengigatkanku akan Kota Wina. Kuarahkan mobilku ke lampu merah Giant lalu belok kanan untuk selanjutnya masuk Tol Veteran untuk disambung ke Tol JORR. Sepanjang perjalanan pikiranku kalut dan masih gamang untuk mencari jalan keluar.

Haruskan kami bercerai. Lantas bagaimana dengan Fatima. Apakah ia akan ikut aku atau ibunya. Bagaimana perasaannya kalau tahu kami berpisah. Untuk kondisi saat ini saja yang aku yang tidak tidur sekamar lagi dengan ibunya, kulihat  ada lintasan pertanyaan “mengapa tidak tidur sekamar lagi” dari wajahnya walau tidak terucap. Sempat kulihat di dinding kamar ada lukisan bergambar hati dan disampingnya ada lukisan sederhana ayah, ibu dan anak perempuan. Sedih. Sering kudengar anak – anak korban perceraian, anak – anak broken home. Dari narkoba, seks bebas, sekolah asal –asalan, menjadi trouble maker di sekolah atau lingkungan rumah, dan masa depan suram lainnya. Sangat sedikit sekali anak – anak yang tegar diantara perpisahan kedua orangtuanya. Ah … mengapa..

Tepat pukul 07.00 aku memasuki parkir kampus. Suasana masih lengang. Sepagi ini tentunya dosen dan mahasiswa belum banyak yang hadir. Kuparkir kendaraan di bawah pohon tepat di depan tiang bendara di Gedung 1. Segera melangkah ke mushola kampus yang letaknya di lantai satu gedung tengah yang digunakan untuk kantin dan toko merchandise kampus yang menjual kaos PMBS salah satunya.

Sedangkan Lantai 2 digunakan untuk ruang makan besar yang biasanya dipakai oleh peserta pelatihan peningkatan kompetensi. Ku buka sepatu dan melangkah mengambir air wudlu. Selanjutnya sholat dhuha 6 roka’at tiga kali salam. Biasanya aku hanya 4 roka’at, dimana 2 roka’at untuk sedekah badan dan 2 roka’at permohonan rizki. Pagi ini kutambah 2 roka’at untuk meminta pertolongan atas masalah perkawinan yang sedang ku hadapi. Setelah itu ku tengadahkan tangan berdo’a dengan redaksi sholat dhuha dulu, baru kutumpahkan permasalahkanku. Tak terasa air mata mengalir dan suara terisak keluar menemani panjatan do’aku ke Illahi Robbi. Tak kusadari di pojok mushola, Pak Adham – marbot mushola berumur 50 tahun menatapku iba dan penuh penasaran. Ia baru saja meletakkan vacuum cleaner untuk mulai membersihkan karpet mushola.

“Mas Rangga ada apa? Mengapa menangis?

Aku menoleh, kulihat Pak Adham duduk dibelakangku. Perlahan ku tarik nafas dalam. Kutimbang – timbang haruskah ku ceritakan aib ini kepada orang lain yang bahkan bukan keluargaku. Bagaimana jika ini jawaban Allah atas do’aku. Mungkin persoalan ini dapat diselesaikan melalui tangan seorang marbot tua. Perlahan tangan tua itu memengang tanganku. Ada perasaan tentram kurasakan menjalar dari tangan sampai hatiku.

“Mas Rangga, kalau ada persoalan mungkin bisa diceritakan. InsyaAllah  saya termasuk orang yang amanah dan mampu menjaga rahasia.”

Kutatap mata teduh di depanku. Ada pancaran kejujuran kurasakan. Akhirnya kuputuskan untuk meminta nasihat beliau.

“Pak Adham……”. Suaraku masih serak. “Pak Adham berjanji untuk merahasiakan masalah saya nantinya jika saya ceritakan?”.

“InsyaAllah Mas”.

“Begini Pak”. Ku coba nyamankan dudukku di depannya. “Saya sedang ada masalah dengan istri”. lantas kuceritakan semua kronologis permasalahan ini sampai selesai.

“Astaghfirullah..”. Seru Pak Adham sambil menghela nafas. “Ini masalah berat Mas Rangga, bahkan sebagiannya dapat membawa kepada dosa besar. Berselingkuh dan berzina itu dosa besar, tapi menuduh perempuan baik – baik berzina tanpa bukti juga dosa besar. Setiap kesalahan yang dilaknat tidak masuk syurga, dilaknat masuk neraka, atau ada hukum hadd di dunia dikategorikan sebagai dosa besar. Ingatlah Firman Allah:” Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [an-Nûr/24: 4-5]

“Artinya, penelepon yang memberitahu mas bahwa istri mas selingkuh atau berzina dapat dikenai ayat tersebut. Termasuk pula mas jika langsung percaya dengan informasi itu dan menuduh istri selingkuh atau berzina juga terkena ancaman ayat tersebut. Bisa juga wanita yang menuduh suaminya selingkuh juga terkena ayat ini”.

“Astaghfirullah..”. Aku tidak tahu bahwa perkara ini bukan perkara ringan dalam agama Islam yang kuanut. Sungguh aku harus banyak belajar agama lagi. “Tapi penelepon itu berani bersumpah, dan akan memberikan bukti – buktinya segera”.

“Pertanyaan saya. Apakah bukti – bukti yang mau ditunjukkan oleh penelepon itu adalah 4 orang laki – laki yang melihat perbuatan zina istrimu dan selingkuhannya seperti melihat timba masuk ke dalam sumur. Kalo hanya melihat istrimu berjalan dengan seorang laki – laki di Mall atau di kedai bakso maka tuduhan ini batal buktinya. Apalagi kalo hanya printout-an photo atau risalah percakapan BBM atau SMS yang keduanya bisa diedit dengan teknologi sekarang maka bukti itu juga tidak kuat.”

“Saya tidak tahu Pak. Sampai hari ini sang penelepon belum memberikan buktinya”

“Bagaimana jika penelepon itu adalah orang atau suruhan orang yang ingin menghancurkan keluarga mas, karir mas, nama baik mas dengan menggoreng kasus ini. Padahal dia tidak mempunyai bukti sama sekali, namun ia tahu bahwa mas atau lelaki manapun akan reaktif dan marah kala mendengar kabar istrinya seligkuh. Efeknya logika tidak dipakai, emosi dan perasaan di khianati lah yang dijadikan panglima”.

“ Bisa juga Pak”. Ah .. kenapa aku begitu ceroboh dan terbawa emosi. Tidak terbayang perasaan Hanum dengan tuduhan ini.  Pasti sakit sekali. Apakah ia mau memaafkan aku, mungkin tidak. Padahal bukti belum ku pegang, apalagi kalo menurut islam harus bukti 4 orang laki – laki sebagai saksi.

“Mas Rangga, Nabi Muhammad saw saja pernah diterpa permasalahan yang sama. Ingatlah kisah haditsul ifki yang menjadi sebab turunnya ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar…”.[ QS an-Nur : 11-21]

“Kisahnya singkatnya adalah Aisyah ikut dalam perjalanan Rosul. Pada saat rombongan berhenti, Aisyah memisahkan diri dari rombongan untuk buang hajat. Setelah selesai ia kembali ke rombongan dan naik ke tandunya. Pada saat itu ia teringat kalungnya jatuh, maka ia turun lagi untuk mencarinya. Namun pembawa tandu mengira Aisyah sudah naik, jadi ketika rombongan berangkat pembawa tandupun ikut serta. Setelah kalungnya ditemukan, Aisyah kembali ke tempat rombongan namun sudah ditinggalkan. Ia beristirahat di bawah pohon menunggu rombongan sadar ia belum ada di dalam tandu. Pada saat itu lewatlah Shafwan – seorang sahabat yang tertinggal rombongan. Ditlolonglah Aisyah dengan menaiki untanya, sedangkan ia berjalan didepan mengejar rombongan. Rombongan terkejar satu hari setelahnya. Dan mulailah tersebar di Madinah bahwa Aisyah selingkuh dengan Shafwan”.

“Bagaimana dengan Nabi mendengar berita itu Pak?”

“Nabi Muhammad saw juga marah sama seperti mas dan lelaki lainnya. Namun beliau tidak langsung menuduh atau memaki – maki Aisyah. Beliau mempersilahkan Aisyah pulang ke rumah Abu Bakar – orangtuanya sampai masalah selesai. Akhirnya dilakukan penyelidikan oleh para sahabat siapa yang terlibat menyebarkan isu. Dan setelah ayat tersebut turun maka mereka para penyebar isu dihukum dera atas perbuatannya. Sekarang apakah Mas mau mengikuti Rosulullah?”

“InsyaAllah Pak, saya muslim yang tentunya akan mengikuti langkah Rosulullah. Tapi setelah tuduhan saya ke istri, maka bagaimana saya harus bersikap”. Kutatap dalam matanya memohon solusi. Sementara di luar mulai ramai suara mahasiswa dan mahasiswi berbincang menandakan hari mulai siang dan perkuliahan akan segera dimulai.

“Tunggulah satu sampai satu setengah bulan untuk menunggu bukti – bukti itu disampaikan. Kalau ada, kita lihat sejauh mana bukti – bukti yang disampaikan kuat untuk mendukung tuduhan perselingkuhan itu. Kalau tidak ada atau tidak kuat maka Mas harus berbaikan dengan istri. Mas harus kalahkan ego lelaki dan berani meminta maaf kepada istri atas tuduhan itu. Kedepan, janganlah mudah menuduh istri berselingkuh sebelum ada 4 saksi sebagai bukti sehingga Mas terkena hukum dera atau Li’an (sumpah laknat) yaitu bersumpah menuduh istri berzina namun jika salah Mas siap di laknat”

“InsyaAllah Pak. Saya akan bertanggunjawab atas tuduhan ini. Saya akan minta maaf atas kesalahan saya. Saya akan bertobat dan mohon ampun kepada Allah atas ketidaktahuan saya terkait beratnya dosa tuduhan selingkuh atau berzina. Terimakasih atas pencerahannya, dan saya harap Bapak bisa rahasiakan permasalahan ini”. Pak Adham mengangguk. Jam menunjuk pukul 09.00, Ku jabat erat tangan Pak Adham, lalu beranjak untuk menuju ruang kuliah dimana aku harus mengajar mahasiswa S1 dengan mata kuliah Etika Bisnis. Kulihat langit terlihat cerah, secerah hatiku yang telah mendapatkan langkah – langkah yang harus kulakukan kedepan.

***

20.05.15 Pemaafan

Hanum

Tok… tok.. tok..

Ku ketuk pintu ruang redaktur majalah Sakinah yang tertulis nama “ Diah Puspitawati”. Seorang wanita muslimah taat lulusan Pondok Gontor Putri – Ngawi yang melanjutkan Kuliah ke Jurusan Jurnalistik Universitas Indonesia.

“Masuk.” Suara Bu Diah terdengar merdu dan berwibawa mempersilahkanku memasuki ruangannya.

“Boleh Mengganggu sebentar Bu?” tanyaku sambil mendorong pintu agar tertutup kembali dan melangkah masuk. Ku lihat beliau baru saja selesai tilawah Al Qur’an. Ku lihat tangannya masih memegang Al Qur’an Cordoba edisi Muslimah bercover kulit imitasi warna meraj jambu. Senyum wajahnya menatapku yang melangkah masuk mendekati mejanya.

“Silahkan duduk Hanum, ada yang bisa dibantu?” Sapanya hangat.

“Maaf bu, saya mau minta masukan masalah Pribadi terkait keluarga. Mungkin ibu bisa memberikan masukan. Tapi mohon ibu berkenan merahasiakannya”.

“Baiklah.. insyaAllah saya akan memberikan masukan sejauh yang saya bisa dan insyaAllah akan saya rahasiakan. Kayaknya sudah sebulanan ini ya masalahnya. Soalnya saya lihat sebulanan ini kamu banyak diam, dan kadang saya temui satu titik air mata disudut matamu walau segera kamu seka”.

“Betul Bu.” Tak kuasa mulailah air mata ini menetes membayangkan permasalahan berat sebulan ini. Mulailah aku bercerita diantara serak dan isak tangisku. Mulai dari peristiwa malam sebulan yang lalu ketika tuduhan itu hinggap di kepalaku, kemudian hari – hari yang hambar saat kami berjumpa dan malam – malam yang menyiksa kala harus tidur sendiri dengan Fatima buah hatiku. Walau selama ini ku coba tegar dan tetap menjalankan tugas rumah tangga dari menyiapkan makan, pakaian, sampau mengasuh anak semata wayang. Walau kadang bertanya, kemanakah momen indah pacaran 4 tahun sebelum pernikahan dan 6 tahun pernikahan yang sudah kulalui.

“Jadi menurut ibu apa yang harus saya lakukan. Meminta ceraikah solusinya”.

“Hmmmm…. Berat “. Terlihat Bu Diah menarik nafas, memperbaiki duduknya, mengepaskan jilbab hijau kesukaannya. Matanya menatapku iba namun tidak mengurani ketajaman kharismanya sebagai redaktur.

“Tidak adakah solusi?”. Gumanku.

“Begini Hanum, kamu masih ingatkan materi kuliah dhuha kita minggu lalu tentang kisah Haditsul Ifki.”

“Iya Bu ..”

“Kamu juga masih ingatkan hasil wawancara kamu dengan Ust. Ali Mustofa Ya’kub tentang tuduhan orang berzina saat ramai daftar nama Artis yang bertarif mahal untuk melayani para lelaki hidung belang?. Bukankah Beliau juga menjelaskan beratnya menuduh seseorang berzina karena menjadi Pelacur atau PSK selain Zina itu juga dosa besar”.

“Iya bu, bahkan rekamannya masih ada”.

“Artinya begini. Pertama, suamimu telah menuduhmu tanpa bukti bahwa kamu selingkuh. Dari sisi hukum dunia dia bebas karena kita hidup di Indonesia yang tidak memakai hukum Islam sehingga tidak dikenakan hukum Dera. Namun jika dia meneruskan tuduhannya dan kamu bawa ke Pengadilan Agama maka bisa saja hakim meminta dia melakukan Li’an, bersumpah bahwa dia menuduhmu telah berzina dan jika salah suamimu siap menerima laknat dari Allah SWT”.

“Jadi jika saya mengadukan masalah ini ke pengadilan agama untuk minta cerai, dapat saja hakim meminta Li’an”.

“Betul. Itu jika kamu mau. Masalahnya adalah baik kamu atau suami kamu akan mendapat laknat. Kamu akan mendapat laknat jika tuduhan itu benar, dan suami kamu akan mendapat laknat jika tuduhan itu salah. Saya yakin kamu bersih dari tuduhan itu. Pertanyaanya sudah hilangkah cintamu pada suamimu sehingga ia rela dilaknat”.

“Tapi Bu, sakit hati saya dengan tuduhan itu. Bahkan kalaupun dia bersujud di kakiku meminta maag belum tentu aku terima maafnya.” Mataku berkilat dan tanganku menggenggam menahan marah.

“Hanum, Apakah Aisyah marah kepada Rosul yang sepintas percaya dengan tuduhan itu sehingga ia dikembalikan ke rumah orang tuanya? Apakah Aisyah meminta Rosul bersimpuh bersujud dikakinya meminta maaf? Apakah Aisyah meminta cerai? Apakah Aisyah sampai akhir hayatnya tidak memberikan maaf kepada Rosul dalam peristiwa ini? Belum lagi kau bayangkan nasib dan masa depan Fatima anakmu pasca perceraian. Camkan ini Hanum?”. Suara Bu Diah meninggi namun berwibawa mencoba meluluhkan benteng keangkuhan dan ego dalam hatiku.

“Tidak bu”. Emosiku mereda, membayangkan bahwa istri Rosul bisa memberikan maaf. Aku pengikut Rosul masa tidak bisa mencontoh.. tapi Sakit hati ini ..ah…

“Jadi maafkan suamimu Hanum, bahkan sebelum ia meminta maaf. Pahamilah jiwa lelaki yang mendapat kabar bahwa istrinya selingkuh, pastilah marah, emosi, dan kehilangan akal sehatnya. Ajaklah ngobrol, komunikasikan segalanya, jangan saling diam dan terus berlarut”.

“Tapi memberikan maaf tidak semudah itu bu.. perlu proses”. Selaku.

“Betul Hanum, perlu waktu. Tapi berusahalah maka insyaAllah pertolongan Allah sangat dekat. Betapa pahala besar menantimu dengan pemberian maafmu. Insyaallah keberkahan akan menerpa keluarga kalian. Hmmmm. Mungkin sekedar saran, kalo bisa kamu ikut pengajian pekanan yang ibu lakukan agar semakin banyak ilmu agama yang kau dapat dan semakin dekat kamu ke Allah, bisa berjilbab syar’I sesuai kondisi dan bisa menjadi istri  yang semakin sholehah dan menarik bagi suamimu. Bukan hanya menarik dari segi fisik tapi juga dari segi hati dan perilaku. Suamimu juga kalo berkenan ikut pengajian yang diadakan suamiku setiap ahad. Agar dia tahu hukum – hukum Islam dalam rumah tangga sehingga tidak mudah menuduh selingkuh kepada istrinya. Sehingga ia tahu apa hak dan kewajiban sebagai suami. Ini sekedar saran kalau bisa, toh tidak ada ruginya, tidak terkait partai kok”.

“Baik bu, terimakasih atas saran dan masukannya. Akan saya pertimbangkan”. Kujulurkan tanganku menyalami Bu Diah, lalu perlahan keluar ruanganya. Sedikit pencerahan hari ini. Semoga Allah segera berikan jalan keluar atas masalah ini.

__.__.15 Ending

Rangga

Tok .. tok ..tok ..

Ku ketuk pintu kamar. Saat pintu terbuka nampaklah istriku – Hanum tersenyum manis menatapku. Tidak ada gurat kemarahan lagi dari wajahnya.

“Masuk Mas”.

Perlahan aku masuk dan sekilas kulihat Fatima anakku tersenyum dari atas ranjang tempat tidur. Segera kupeluk istriku dan ku bisikkan kata yang sangat berat.

“Maafin Mas Num”.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan Mas, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Aku paham dengan perasaanmu kala menuduhku. Walau sakit aku telah memaafkanmu, toh aku jauh dari tuduhanmu. Pintaku mari rajut kembali rumah tangga kita. Mari komunikasikan setiap hal. Mari Curhat tentang segala hal termasuk kejadian di tempak kerja kita masing – masing. Mari juga terbuka dan transparan dalam segala hal dari keuangan, rencana- rencana, HP, laptop dan sebagianya. Mari kita untuk saling percaya bahwa kita tidak akan menghianati biduk rumah tangga kita bagaimanapun besarnya badai”.

“Baik Num. InsyaAllah Mas juga berazam untuk menjadi lelaki muslim yang kaffah. Mas akan mengaji. Dunia mungkin saatnya kita letakkan ditangan sehingga kita tidak ngoyo untuk mengejarnya.”

“Begitu juga aku Mas. Aku akan menjadi muslimah yang lebih taat. Aku akan berhijab. Aku juga akan ngaji ilmu islam agar kaffah juga”.

Kami berdua tersenyum. Terbayang istana – istana negeri dongeng dalam kisah – kisah anak – anak. Ya. Aku mungkin bukan pangeran dan Hanum bukan Cinderela atau Rapunzel. Tapi kami adalah Rangga dan Hanum pasangan suami istri yang belajar untuk mengikuti langkah Nabi dan Aisyah untuk menuju syurga.

*****

20.05.15

Andika Nur Aulia

PS: Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Mei 2015 by in Uncategorized.
%d blogger menyukai ini: