Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Kenapa Sendirian, Mana Pemimpin kalian?

Duhai sahabat, mengapa engkau berjuang sendirian. Ya aku tahu kalian sedang berjuang, kalian sedang berdakwah, kalian sedang berjihad, kalian sedang menegakkan kebenaran, membongkar kebohongan dan kemunafikan, membela ummat dan mengajak manusia dari menuhankan manusia kepada menuhankan Allah. Tapi, Kenapa Sendirian, Mana Pemimpin Kalian?

Duhai sahabat, mengapa engkau berjuang nyaris tanpa arah. Bagiakan buih-buih lautan yang diterjang ombak. Bagaikan debu yang tertiup angin. Padahal musuhmu makin hari makin mematut diri untuk menjadi pembela tuhan kapitalisme yang lebih kuat. Mereka makin mengokohkan diri sekeras baja dan beton untuk menghadapi seranganmu. Tapi apalah kalian jika hanya sebutir debu dan sebuih ombak jika harus melawan baja dan beton. Jangan beralasan ini konsekuensi perjuangan. Karena para pejuang kebenaran walau lemah harus bersatu dan memiliki pengarah/pemimpin agar menjadi kuat.  Tapi, Kenapa Sendirian, Mana Pemimpin Kalian?

Duhai sahabat, mungkin kalian bertanya. Apa maksudku mengatakan kalian berjuang tanpa arahan dan tanpa pimpinan. Lihatlah kebelakang, begitu banyak terjadi kalian diombang-oambingkan senjata lawan untuk makin membuat kalian terlihat ‘bodoh’. Kalian terlalu reaktif emosianal tanpa menggunakan nalar yang jernih dan memiliki arahan dalam bersikap. Okelah .. ku berikan beberapa contoh (walau dulu pernah kuajari, mungkin kalian lupa, mungkin kalian lelah untuk mendengar nasehat dari bukan ‘bangsa’mu):

  1. Tentang hutang bank-bank BUMN ke China untuk pembiayaan infrastruktur. Yang kalian kecam hutangnya. Hutang adalah akibat, tapi kalian lupa dengan sebab. Tahu gak sebabnya… Baik. .tak kasih tahu.. Sebabnya adalah negara ingin membangun infrastruktur untuk mendukung dan mengairahkan ekonomi, ada jalan tol, ada bandara, ada pelabuhan, ada kereta api. Pertanyaannya, sudahkan secara konstitusional orang yang kalian dukung dalam parlemen menyatakan penolakan dan konsisten dengan penolakan?
  2. Tentang tukang sampah dan baknya di depan pesawat saat kunjungan ke Amerika. Pernahkan kalian naik pesawat? belum ya.. pantesan mau ditipu. Menabunglah sesekali, dan pikniklah dengan pesawat. Atau tanyakan kepada anggota parlemenmu yang sering kunjunan ke luar negeri. Ceritakan bagaimana bandara. Kalo segan nanya takut dibilang membangkang, tanya kepada ‘mbah google’. Harusnya kalian mikir dan bertanya. Pertama, apa benar ada tukang sampah dan baknya berkeliaran di landasan parkir pesawat, apalagi pada saat pesawat baru landing, apalagi itu pesawat kepresidenan. Kedua, Siapa yang sebar foto? Rombongan atau wartawan yang ikut rombongan? Ketiga, apa maksud mereka menyebar foto tersebut? Sebagai umpankah? Sebagai ‘decoykah’? Mikir …
  3. Tentang foto Suku Anak Dalam yang nongkrong bersama. Mulailah pertanyaanya seperti kasus nomor dua diatas. Tak rinci aja dech.. takut kalian gak menyimak. Pertama, Apa benar orang – orang itu adalah suku anak dalam? Kedua, siapa yang sebar foto? Kegita, apa maksudnya mereka sebar foto. Kasus seperti nomor dua dan nomor tiga itu sangat banyak kalian sebarkan. Sungguh ceroboh kalian ….
  4. Tentang APBN tahun depan yang kalian sebar penuh dengan arena bancakan proyek katamu. Pertanyaannya, apa yang anggota parlemen pujaanmu lakukan. Menolakkah? Setujukah? Walkoutkah? Demokah? Boikotkah? Kok adem ayem … kompromi … trus ngapain kalian share hal gak jelas gini manakala yang digaji puluhan juta malah no commen dan no action.

Itu beberapa contoh. Cerdaslah kawan. Dari sisi manusia makin kelihatan bodoh kalian. Dari sisi manusia kalian dengan alasan membela kebenaran malah menghancurkan perjuangan dengan kebodohan kalian. Belum lagi pertanggungjawaban akhirat. Karena dengan ini stigma tukang fitnah terstempel pada muka kalian, sehingga ketika kalian sampaikan yang benar-benar sebuah kebenaran maka masyarakat umum akan mengatakan ah .. ini fitnahan. Itu targetnya kawan… sadarlah .. bangun dari kebodohan kalian … bangun .. dan jika kalian mengatakan saat ini kami punya pemimpin yang hebat .. maka saya bilang .. tinggalkan saja pemimpin bodoh kalian, pemimpin yang membiarkan pengikutnya untuk berjuang sendirian dengan kebodohannya dan pada saat yang sama pemimpin itu enak – enakan ngeteh di starbak …

Maka, Kenapa Sendirian, Mana Pemimpin kalian?

#Buat Kalian di Negeri di Atas Awan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 3 November 2015 by in Uncategorized.
%d blogger menyukai ini: