Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

10 Tahun Menikah Tanpa Cinta (1)

Alkisah satu siang di sebuah rumah mungil dengan perabotan sederhana. Seorang istri sedang bersimpuh di kaki suaminya yang duduk di ujung dipan. Mukanya sembab menandakan dia habis menangis. Di sebelahnya terbaring anak pertamanya yang masih terlelap dalam tidur siangya. Dipilin – pilinnya sapu tangan yang habis dipakai untuk menyeka air mata yang masih sesekali mengalir disudut matanya.

Hening…

Belum ada satupun yang berbicara. Masing – masing masih sibuk dengan pikirannya, manakala kedua hati itu juga berkecamuk dengan emosi yang tak bisa dilukiskan dengan kata – kata.

Akhirnya …

Istri: Bang.. (sambil menyeka anak sungai air mata yang tiba – tiba mengalir)

Suami: .. Ya Dek. (memandang wajah istrinya)

Istri: Sudah berapa lama kita menikah Bang?

Suami: Hmmm.. kalo nggak salah sudah 10 tahun.

Istri: Iya Bang, … kita sudah menikah 10 tahun, sudah punya dua anak. Tapi sampai hari ini, belum pernah kudengar Abang mengucapkan Cinta kepadaku. Betul Bang. Kita menikah tanpa proses pacaran, artinya kita menikah tanpa diawali oleh proses cinta-cintaan. Tapi, masa sih menikah sudah sebegitu lama, belum ada rasa itu di hati Abang. Bang, aku tidak berharap Abang seperti mereka yang bisa setiap jam menelepon atau SMS istrinya untuk menanyakan keadaan yang diawali dengan kata “Cinta, Bebeb, Say, Honey Bunny, Yang” atau kata mesra lainnya. Kemudian ditutup dengan “Aku Cinta Kamu, atau Aku Sayang kamu, atau I Love you atau hanya Lap Yu”. Apalagi kali Suaminya sedang dinas keluar kota. Aku hanya berharap Abang sekali saja menyampaikan bahwa Abang Cinta kepadaku. Itu saja …

Suami: (memandang mata istrinya) Lho kok .. kamu jadi melankolis gitu .. Selama ini kamu gak pernah menanyakan itu, trus sekarang menanyakannya, sambil menangis lagi .. Ada apa sebenarnya? Apa Abang menurut Adek kurang setia, atau ada informasi Abang melirik Gadis untuk dijadikan yang kedua, atau kenapa?

Istri: Enggak Bang, bukan itu. Baru saja aku baca sebuah tulisan :” Menikahlah dengan orang yang mencintaimu, bukan dengan orang yang kau cintai. Karena orang yang mencintaimu akan berupaya untuk menjaga, melindungi, dan membahagiakanmu. Tapi orang yang kau cintai belum tentu mau melakukan itu, bahkan bisa jadi dengan keegoisannya ia akan membuatmu sengsara dengan memintamu menunjukkan cintamu kepadanya”. Dari situlah aku berpikir, apakah Abang mencintaiku? Aku ingin kepastian Bang.

Suami: Pentingkah kata Cinta itu bagimu Dek?

Istri: Penting Bang. (menatap dalam mata suaminya)

Suami: OK! Kalau kata Cinta itu penting. Tolong kasih tahu abang, Cinta itu apa?

istri: Nah kan. Abang gak mau jawab kan. Makanya Abang ngeles dengan malah menanyakan definisi Cinta itu apa. (menutupkan kedua tangan ke muka, terisak, tambah deras air mata mengalir dalam tangisannya)

Suami: Bukan begitu Dek. Abang hanya ingin menyamakan persepsi diantara kita. Makanya abang menanyakan definisi Cinta itu apa.

Istri: ….. (terdiam)

(InsyaAllah Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 November 2015 by in Uncategorized.
%d blogger menyukai ini: