Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Masela diantara Sudirman Said dan Rizal Ramli

Sebagai pengantar, penulis ingin mengajak rakyat medsos untuk ‘pintar’ bersikap bukan hanya latah berbasis berita/tulisan apalagi hanya berbasis kedaerahan misal soloisme, belitungisme, jawaisme, atau palembangisme. Tapi berita/tulisan itu dicerna dahulu baru bersikap antara mendukung penuh, mendukung dengan catatan, mengkritik, atau bahkan menolak.
Sama dengan tulisan sebelumnya, mungkin banyak yang menganggap penulis itu anti green karena judulnya “200 rupiah salah siapa” tanpa membaca sampai akhir. Terus menyitir pendapat pakar pakar CSR yang katanya mendukung kebijakan itu. Pertanyaanya pernahkah mereka duduk satu meja dengan La Tofi, Kang Jalal atau Prof Laode Ida yang dikenal sebagai pakar CSR? Kalo penulis hehehe.. Kasih tahu gak ya..
Kembali ke isu Blok Masela atau kadang dikenal dengan Blok Abadi Masela atau dikenal dengan Lapangan Gas Abadi Masela. Lho kok ada abadinya? Kata abadi di situ dikarenakan reservoar gasnya jika di panen tiap hari maka masa panennya lebih dari 50 tahun. Permasalahannya lokasi Blok Masela berada di tengah samudera yang berbatasan dengan Australia di selatan dan Timor Leste di Barat yang di kedua batas tersebut saat ini juga sedang dipanen MIGASnya.
Karena posisinya di tengah samudera dan berada di laut dalam, maka teknologi untuk mengambilnya juga lumayan tinggi yang efeknya biaya investasi melonjak. Setelah diambil dilanjutkan dengan pilihan dimana akan mengolah, dilaut (offshore) atau di darat (onshore). Disinilah pangkal berbedaan antara Sudirman Said dan Rizal Ramli.
Sudah sejak lama Inpex sebagai pemegang konsensi mengkaji kedua kemungkinan tersebut. Dari sisi investor maka Inpex ingin opsi yang dipilih adalah yang memiliki pay back periode yang paling cepat dengan tingkat Return of Investment yang paling tinggi. Berdasarkan kajian tersebut didapatkan bahwa opsi offshore dengan Floating Liquid Natural Gas (FLNG) lah yang paling baik karena gas dari dalam bumi itu langsung diolah ditempat menjadi LNG yang sudah siap digunakan. FLNG tersebut berfungsi sebagai penyedot sekaligus pengolah crude gas. Sayangnya, untuk membuat FLNG dengan luas melebihi lapangan bola tidak bisa dilakukan di Indonesia. Negara Asia yang memiliki yard yang luas adalah Korea, China dan Jepang. Artinya Indonesia tidak memiliki manfaat dalam proses pembangunan FLNG tersebut dan praktis hanya mendapat manfaat dari bagi hasil gasnya dengan tingkat return yang lebih tinggi dari opsi onshore.
Itulah kenapa Sudirman Said memilih opsi ini. Hal tersebut dikarenakan ESDM dengan SKK Migas dituntut PNBP tinggi dari bagi hasil migas sebagai sumber pendapatan negara untuk membiayai pembangunan. Artinya opsi yang dipilih olehnya adalah dalam kapasitas menjalankan tugas pokok dan fungsi kementeriannya.
Disisi seberang. Rizal Ramli memilih opsi onshore walau dengan tingkat investasi yang lebih mahal yang salah satunya akibat perlu membangun jalur pipa yang jauh sehingga pay back periode lebih lama dan ROI lebih rendah dibandingkan dengan FLNG. Hal ini dikarenakan dia menghitung nilai multiplier effect yang ditimbulkan dari opsi onshore dan membandingkan dengan selisih kenaikan investasinya dan menurutnya itu masih lebih menguntungkan.
Multiplier effect yang bisa didapatkan adalah berkembangnya wilayah Saumlaki sebagai pulau yang paling dekat untuk tempat onshorenya dimana pendapatan Asli Daerah akan meningkat, perekonomian penduduk meningkat, tenaga kerja tersalurkan.. Sama persis dengan berkembangnya Bontang dengan ‘Badak’nya. Selain itu dapat dibangun pabrik pupuk untuk meningkatkan pertanian di Indonesia Timur serta mengurangi ongkos logistik pupuk yang sebesar 21% yang mengakibatkan harga pupuk di Papua bisa dua kali di Jawa.
Belum lagi jika gas tersebut digunakan untuk bahan bakar kapal ikan yang mayoritas di perairan dekat Saumlaki maka akan mengefesienkan dan meningkatkan produk perikanan Indonesia.
Multiplier effect itulah yang diharapkan terjadi, dimana kalau biaya pengembangan tersebut dibebankan kepada APBN maka nilainya lebih tinggi dari selisih kenaikan biaya investasi di onshore. Penciptaa multiplier effect tersebut tentunya menjadi tugas pokok dan fungsi Kementeriannya.
Berdasarkan dua sudut pandang diatas maka baik Sudirman Said maupun Rizal Ramli telah bekerja dengan profesional sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kementerian yang diembannya. Kalau terjadi kegaduhan sebenarnya terjadi di dalam sidang kabinet dan bukan di media masa karena ada Presiden sebagai wasitnya.
Jadi sesuai arahan Presiden, baiknya isu ini dibahas internal dan semoga diambil keputusan terbaik untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Semoga.

ASUR 07/03/16

‪#‎bukannyinyir‬ ‪#‎belummoveon‬
‪#‎AJAPmakemecreative‬

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Maret 2016 by in Politik.
%d blogger menyukai ini: