Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Menikahlah dengan Pekerjaan Anda

“What? Are you kidding me? Are you out of mind? Menikah ya dengan sesama manusia lah, yang beda jenis pastinya. Wong menikah dengan yang sejenis aja sudah kita bilang ‘mad’ lha ini kok menikah dengan pekerjaan. Maksudmu jadi workaholic dan men’jomblo’ seumur hidup?”, itu mungkin hal yang akan terus nyerocos dari mulutmu untuk mengomentari judul diatas.

Wait a minute”. That’s not exactly what I want to share about”. Tenang guys.. aku tetep  saranin kalian menikah dengan sesama manusia kok.. Cuma, dalam proses pernikahan dengan manusia itu kok tak pandang rada-rada sama dengan proses kita bekerja. Opo wae jal

Pertama, pada saat kita masih jomblo dan bebas memilih. Maka kita akan memperturutkan passion kita ‘memilih’ someone yang bikin hati ini deg deg ser .. Tapi passion itu apa sich.. kata Wikipedia: “Passion (from the Greek verb πασχω meaning to suffer) is a very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion, a compelling enthusiasm or desire for something.” Yap betul, suatu perasaan yang kuat tentang seseorang atau sesuatu dimana melibatkan antusiasme atau keinginan atas sesuatu. Kadang dibumbui ‘keikhlasan’ untuk melakukan sesuatu untuk mengejar passion kita. Contohnya “ lautan kuseberangi, gunung kudaki, masjid kulewati .. eiiits”. Paling gampang bisa dilihat kalo orang lagi in passion dengan seseorang itu rela berjam – jam memandangi pemandangan .. lho kok pemandangan .. lha iya … kan si dia yang lagi jadi passion kita akan selalu nampak indah..  trus pengin selalu dekat trus rela keluar waktu,  tenaga, harta, jiwa dan tak lupa satu ekor sapi kurban untuk sang tercinta ..

Nah, sama kan dengan pekerjaan. Saat masih kuliah kita akan memilih jurusan kita sesuai dengan passion yang kita miliki.  Yang dari kecil suka ‘sosialita’ a.k.a ngrumpi akan memilih jurusan social atau politik yang lebih banyak memerlukan komunikasi atau ceramah dikhalayak ramai. Yang kecilnya suka oprek jam weker, mobil-mobilan, walaupun hanya terima bongkar tanpa terima pasang akan memilih Teknik Mesin. Sedangkan yang kecilnya suka mencampur antara teh dan kopi untuk mendapatkan rasa minuman terbaik akan memilih Teknik Kimia .. begitulah kira – kira …

Namun kadang – kadang ada juga yang passionnya Seni eh malah masuk Hukum, bisa karena gak lulus tes saringan masuk atau karena disuruh bokap atau ‘parah’nya karena seseorang yang mau ‘ditembak’ jadi istri/suami ada di fakultas tersebut .. kan katanya dunia milik kita berdua dan fakultas ada diunia kan?.. hehehe. Cuma meskipun gak sesuai passion tapi kok lulus juga bahkan kadang cumlaud lagi …

Kedua, Setelah masa pencarian dilanjutkanlah ke jenjang ‘ikatan’. Kalo pernikahan disebut akad nikah kalo kerja disebut kontrak kerja. Nah seringkali…. (pakai lirik lagu Armada), passionnya sama siapa .. nikahnya sama yang lain atau jurusannya apa kerjaannya apa. Ada yang pacaran 5 tahun sama si A, eh ketemu si B seminggu langsung akad nikah. Ada yang pas di pesantren lirikin si C eh sama Kyainya dijodohkan sama di D… alamak … Tapi kok banyak yang ‘langgeng’ sampai kakek-kakek ninen ninen ya … Coba Tanya orang tua kita yang lahir sebelum tahun 60an … apa mereka nikah karena passion pada awalnya???

Trus kalo di pekerjaan yang jurusan politik malah jadi Staf HRD sedangkan yang jurusan Teknik malah jadi politisi .. coba cek saja CV politisi kita… saya yakin mayoritas mereka dari jurusan Teknik .. macam Hatta Rajasa itu lho … Sering juga dokter jadi artis atau Teknik Elektro jadi juragan bakso .. mana passionnya kalo gitu .. Kalo yang sesuai jurusan berarti bekerja sesuai passion tapi kalo yang tidak sesuai jurusan apa kita akan bilang ‘TERPAKSA’.. Are you sure? Terpaksa kok tetap happy … terpaksa kok sukses.

Ketiga, setelah pernikahan atau setelah bekerja. Dulu passion ke seseorang karena dia rambutnya lurus, wajah bening, kulit kenceng, langsing atau body six pack … eh setelah tiga tahun nikah rambut jadi kriting karena banyak masalah, wajah kusam karena sering kena wajan, kulit kendor karena jarang fitness, perut one pack karena sering suruh habiskan makanan anaknya… lantas apa kamu akan bilang: “My passion is no longer exist … What?”

Efeknya kamu sudah tidak peduli sama istri/suami dan anakmu trus asyik dengan gadget bernostalgia dengan old-passion .. awalnya LDR lama – lama offline atau malah searching kondisi yang sesuai passion yang bening – bening misalnya atau yang six pack tapi kadang ngondek .. lah .. lah .. lah.. Efeknya anak keleleran .. jadi Joki three in one .. habis dicabut senin depan pindah jadi pengamen jalanan .. akhirnya ketemuan .. malu malu macan …

Atau kala karena perubahan jaman yang menyebabkan perubahan organisasi pekerjaan, seorang yang dulunya kuliah jurusan SDM trus kerja jadi HRD pada tahun sekian di ditugaskan menjadi Project Manager untuk menggawangi oprasional. Trus kamu bilang :”It’s not my passion” trus project itu kamu telantarkan? Kamu lebih banyak nongkrong samping masjid agar ketularan berkah atau lebih banyak berkeluh kesah di warteg samping sekolah sambil searching sesuai passion?

Maka betapa banyak rumah tangga yang tetap harmonis meskipun baut sudah kendor, cat sudah luntur, tambalan koyo disana sini atau betapa banyak orang yang sukses di pekerjaan walaupun tidak sesuai dengan passionnya ‘dulu’ serta tidak pernah berpikir ‘divorce’ atau quit (but not) quit? Jawabannya adalah Responsibility beyond (old) passion, then create new passion.

Artinya suami/istri atas nama tanggungjawab sesuai perannya merubah passion dulu untuk melihat super hero pada pasangan dan saat ini berusaha membentuk baiti jannati diatas kekurangan yang ada. Untuk pekerjaan sang pegawai berusaha untuk mencintai tugas barunya untuk kepentingan organisasi/perusahaan dengan kaidah “khoirunnas ‘anfauhum linnas”- memberi kebaikan bagi manusia. Ketahuilah perusahaan pasti berubah dan pegawai harus berubah untuk mecapai tujuan perusahaan, karena jika tidak berubah maka lihatlah betapa banyak perusahaan di “Fortune 500” yang hari ini tinggal separuh karena terkena “disruption” akibat perkembangan jaman. Patut diduga disruption itu terjadi karena pegawainya terlalu menuhankan passion diatas tanggungjawab untuk menuju ‘Sustainable Enterprise’.

So, lets create our new passion when ever needed, love your new passion, and then fulfill your competence to conduct your new passion. Lets marry the job, why take so long?

 

#passion #job #disruption #change

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Mei 2016 by in Uncategorized.
%d blogger menyukai ini: