Bagai Tetesan Air Hujan

Hiduplah sekali namun berguna bagi sesama, setelah itu jemputlah Syurga

Seeing is Believing, Ilmu Titen dan Primbon Jawa

“Pernah baca Primbon Jawa? Judulnya Betal Jemur Adam Makna. Belum? OK.” Mulai deh penanya mengernyitkan dahi.

“Pernah tahu Ilmu Titen? Biasanya yang makai orang Jawa. Belum juga? OK.” Mulai deh penanya rubah tempat duduk.

“Pernah lihat orang gesekan ibu jari dan jari telunjuk sambil lihat langit trus bilang sekitar 30 menit lagi hujan. Lagi – lagi belum? OK.” Mulai deh penanya bersandar ke kursi agak bingung.

‘Kalo gitu. Pernah denger Seeing is Believing? Masih belum juga? OK.” Mulai dech penanya nyari pegangan, bukan karena bingung tapi bis agak ngebut sekarang.

“Buat pegiat medsos, tak bikin mudah dech. Kalo yang ini masih belum juga, delete aja aplikasi WA, FB, Insta, Twitter, Path, dan lainnya dari HP kamu lalu akhiri paket data. Buang – buang pulsa saja. Kalimatnya begini: “No picture is hoax”. Pasti sudah kan? Kalopun belum bilang saja sudah daripada kamu deletin semua apps itu.” Sambil penanya atur nafas agar kesabaran tingkat dewa dapat tercapai.

“Sebenarnya mau bahas apa sich?” Kayaknya suara hati kalian mulai penanya dengar. Tuh kan…. Bener kan…

“OK. OK. Kuliah bis kota kita mulai. Lho kok bisa kota? Soale monolog ini dibuat di bis kota bro and sis.. Sambil menikmati goyangan badan bis diiringi lantunan artis papan tengah bis kota maka jadilah tulisan tak berguna ini. Kalian saja yang kelebihan waktu mau maunya baca ini sampai habis. Gak lagi dikejar arwah penasaran kan? Tenang! Semua arwah pasti ke alam barzah. Yang penasaran itu biasanya arwah yang di dunia maksiat mulu pas di timbang amalnya dapat tiket VVIP ke NerakaJahannam. Baru si arwah penasaran pengin jadi orang baik dan minta kembali ke dunia. Makanya mumpung kamu kamu masih di dunia, jadi orang Baek ya.. Biar gak jadi arwah penasaran. Eh kok ngelantur .. OK kita fokus.. Ambil nafas panjang.. Pejamkan mata trus tidur.. Lha salah ngelantur lagi… Sekarang serius…

Yang mau kita bahas sedikit menyerempet ilmu sosiologi materi. Artinya kita sebagai manusia akan selalu digoda dengan materi. Simpelnya adalah akan selalu mengejar dan percaya dengan yang dilihat. Misal, akan menghargai orang yang pakai baju perlente dibanding yang pakai celana agak Kumal sedikit. Padahal bisa jadi yang perlente belinya HP Crocs, yang agak Kumal belinya IPhone 6. Kenapa? Karena yang perlente sebenarnya sok gaya tapi yang agak kumal itu mengamalkan Pancasila bagian “Melakukan Pola Hidup Sederhana”. Inget kan itu ada dalam butir – butir P4. Kalo yang inget kamu generasi 80an, kalo yang bengong kami generasi 90an.
Itulah manusia, akan percaya dengan apa yang dilihat. Padahal tidak selalu. Bahkan Nabi aja ditantang untuk sesuatu yang susah namun bisa dilihat. Maka jadilah mu’jizat, misalnya Nabi Muhammad membelah bulan, Nabi Isa kasih makanan gak habis habis, Nabi Musa membelah Laut Merah dan sebagainya. Semua harus bisa dilihat bahkan dirasa. Makanya pada peristiwa isra’ dan mi’raj, untuk menunjukkan bahwa itu benar maka diberikan informasi yang bisa dinyatakan, yaitu kabilah dagang yang pas sampai Mekah bisa ditanya, tata letak layout Al quds beserta situasi hari itu yang juga bisa ditanya ke orang yang disana. Itulah ” Seeing is Believing” atau bahasa pikniknya ” No picture is hoax”.

Jarang sekali manusia itu seperti Abu Bakar yang langsung bilang percaya pas Nabi cerita. Makanya dia dijuluki as Sidiq. Karena ia yakin Nabi gak akan bohong, wong sebelum jadi Nabi saja dikasih gelar Al Amin… Yang dapat dipercaya.. Pasti jujur kan?

Nah, kadang beberapa orang punya kelebihan untuk menganalisa sesuatu. Contohnya hujan. Dia sebenarnya bukan sedang meramal, namun sedang membuat hipotesa. Bahwa kalo langit mendung hitam, angin gak kenceng, trus kelembaban sudah agak kerasa dari ngesek nggesek jarinya maka biasanya dalam waktu tertentu akan hujan. Pasti benar? Gak juga, kan penentu adalah Allah. Bisa jadi beberapa menit kemudian Allah suruh angin bergerak kencang. Jadinya hujannya turun di tempat lain. Lha percuma dong! Gak juga. Kan dengan prediksi itu dapat siap siap beli payung atau cari rekan yang bawa payung atau kalo modus cari anak Pak Kyai yang bawa payung buat nebeng.. Eh nebeng doa Allahumma Shoyyiban nafi’an.. Bukan modul yang lain.. Atau kalo motif ekonomi ini saatnya ngojek…

Itulah Ilmu Titen dalam budaya Jawa. Cuma buat hujan? Gak juga. Bisa buat yang lain misalnya menerka sifat seseorang, sifat hewan, atau suatu kemungkinan peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Itulah yang akan kita temukan dalam Primbon Jawa khususnya Bab Katurangganing Manungso dan Katurangganing Kewan. Dipakai pun untuk langkah awal mengenal manusia sehingga kita bisa menyesuaikan diri atau hati hati jika manusianya dicirikan berbahaya. Kalo untuk hewan ya biar gak rugi kalo beli hewan yang salah. Kalo bab lain tentang Ramal atau Tips Main atau Maling jangan dipakai ya. Please don’t try at home.

Nah, poinnya adalah kadang kita ketemu dengan orang yang seolah berpikir 4 atau 4 langkah ke depan yang punya prediksi apa yang akan terjadi setahun kedepan. Bisa jadi ia punya ilmu Titen dan cara berpikirnya hellycopter view sehingga lebih luas dalam memandang. Tapi buruknya kadang orang seperti ini dipandang sok tahu, sol melawan atasan, ngeyelan, kalo prediksinya negatif dibilang pesimis. Kalo itu kamu dan dituduh begitu, easy going saja toh kita hanya kasih wawasan. Tak usah berdebat untuk mempertahankan pendapat, toh pendapat kita belum tentu bener juga. Biarkan ngalir saja.

Karena dari ilmu materi ini, istilah kalo belum kepentok gak akan kerasa seberapa keras pun kita teriak. Biarkan saja sampai kepentok dan doakan dia sadar. Kalo gak sadar juga ya teriakin lagi dan doakan lagi. Hanya kadang, efek kepentoknya kadang imbasnya ke kita. Bayangin kalo yang kepentok itu tembok kamar mandi, trus bolong, apa gak horor kita mandi. Bakal gak tenang kita sabunan dan keramasan, dikit dikit lihat lubang tembok ada mata – mata gak mac James Bond atau si Bourne yang lagi kunjungan. Atau minimal si Spidey yang lagi gelantungan nyari Cinta mau minta Aqua. Bener – bener horor dech..

Jadi intinya dalam hidup jangan dijajah materi. Ada banyak hal abstrak yang kudu kamu percaya. Pakai saja kacamata iman, misalnya Adanya Allah, adanya Syurga, Adanya Neraka, Adanya Siksa Kubur, Adanya Hari Kiamat. Walau kamu sekarang gak bisa lihat, kamu kudu percaya. Nah kalo gitu Ramadhan lan sebentar lagi.. Yok siap siapinta ampun dan minta Syurga yang keduanya saat ini gak kelihatan mata.. Nyok…

OK dech.. Sudah jelas kan. Aku cukupkan dulu ya, soale dah mau turun dari bis nich. Kalo kamu baca sampai sini berarti kamu menghargai penulis yang sudah hampir dua jam tangannya jeneng mencet layar smartphone. Itu artinya kamu banyak waktu luang, habis ini baca Qur’an ya.. Masa baca tulisan gak jelas ini bisa ada waktu kok baca Qur’an kamu bilang sibuk. Ayo tilawah…

‪#‎ilmutiten‬
‪#‎seeingisbelieving‬
‪#‎primbonjawa‬
‪#‎betaljemuradammakna‬
‪#‎kejedottembok‬
‪#‎AJAP_JKTTGR‬
‪#‎ASURcopyright‬
#18052016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 Mei 2016 by in Uncategorized.

Navigasi

%d blogger menyukai ini: